Arsip untuk Agustus, 2008

dhudha si pejabat negara, 2

8 Agustus 2008

pagi sodara-sodara!
saya punya cerita,

kemarin-kemarinnya lusa…
ada kuli tinta dan kuli berita yang tanya pada saya
bagaimana kalau saya mesti ngadepi tuntutan jaksa…?
lantaran tingkah polah saya yang suka foya-foya pake fasilitas dan biaya negara

hugh!!!!!!!
pu!h. puih.puih.pu!H.puiiii!!!!!h.puih.puih.puih.
tuntutan jaksa??

tuntutan??????!!!

jaksa?????

kalian-kalian kuli-kuli jelata harus tau ya……
itu, kebanyakan para jaksa itu
mereka itu sekongkol-sekongkol saya untuk urusan foya-foya
dan kalian ini harusnya tau juga
selain pejabat negara, saya ini rajanya bajingan
motto saya
ya…
kalian kuli-kuli jelenteh perlu tau motto saya

(wwwuaaaassss….*, awalnya saja kita-kita ini disebutnya sodara.
Eh! sekarang dia sebut kita kuli jelenteh…betul-betul, pejabat satu ini memang baji…..**aaaaaaaa….nnn, teman di sebelah, merutuk & menyumpah. saya juga)

sebagai pejabat, saya musti punya motto kan,
motto…
ya…
motto saya ini
ing ngarsa itu untuk numpuk arta bandha pake segala coro
segala-gala cara itu saya pake’
tidak ada itu cara yang saya tidak tau dan tidak pake
pokoknya, demi arta bandha atawa arthanya lita saya pake segala cara
nJiiii….laati bokong kethek baboon pun saya sedia!

na..
trus ing madya,
ing madya itu,
paling penting dan paling prioritasnya adalah,
mangun kuasa kang kumawasa
mumpung saya ini punya kesempetan kuasa, ya…tho?
kumawasa-lah saya
lalu yang trak’hir

yang trak’hir itu ing wuri, di belakang, dari belakang
di dan dari belakang itu saya musti pintar-pintar dan lihai-lihai nggaronggrogoti.
ya…
betul itu…
tut wuri hanggrogoti
itulah! moo…ttto saya.
bentar…ngaso bentar saya

–glek-glek-glek-glegh–

he!

saya lanjutkan ya..
tau tidak, kalian ini!

saat ini, saya ini s’dang nggrogoti kayu-kayu empuk dari hutan-hutan negeri ini.
dan tempo hari.tempo hari
saya baru kasih memo sakti
yang kalo kelian-kelian ini para kuli jelenteh memegangnya
bakal bikin mampus terkejut
pasalnya
isi memo itu ya untuk ditujukan kepada pejabat-nya pejabat paling tinggi dari pertamainamainmania
saya perintah dia untuk nyopoti intan-intan di mata bornya
kan mendingan dipake untuk meningkatkan gengsi bini-bini saya dan juga
para selingkuh saya tho???….
mata bornya ya ganti saja dengan besi biasa
remuk yo belikan lagi
nanti, intannya copoti lagi
ganti besi biasa saja lagi

begitu seterusnya.

kalo kehabisan duit cuma sekadar buat beli bor baru, …

atau kalo s’dah terlalu banyak orang
yang mewek protes
ya…su….daaaa…h.
ladang-ladang minyak itu kita jual ke perusahaan besar dari laen negara saja
kalo nantinya kita musti impor…
ya…luweh sajha.

impor bbm itu kan cuma istilah administrasi dagang sajha, hla wong…
tempat ngambilnya bbm itu masih di negeri kita kok,
cuma yang jualnya saja…perusahaan laen negara.

(kemplu!)
kalo akhirnya rakyat negeri ini remek-remek hidupnya dan susah nyari bbm
ya biar saja!
wong mereka itu jadi keset kaki saya saja masih terlalu bagus kok
(lagi-lagi, teman saya merutuk–saya juga–wuaaaaaass????????????????????????…!!!)

kelian para kuli jelenteh ini musti sadar,
s’bagai bajingan besar di negeri ini,
sa..yyyya inni, takda banding,
sebelas puluh ribu bento-bento-bento-bento itu belum ada apa-apanya
dibanding dengan saya yang cuman senggel.

Hah!
s’dah dulu.
s’dah cukup panjang saya mBacot.

kalian
kuli-kuli jelenteh, makan dulu sono
itu saya nyang traktir konsumsinya

biarpun s’dah basi
pokoknya kan lauknya ayam goreng.
kelian kan gak makan ayam tiap ari tho…?
o-ya…
biarpun kelian cuma dapetnya cheker,
itu cuman cheker ayam lho!

yang penting:
masih ayam
……

(huagh! masihlah enakan ngomong……genjiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii……*…!)

dhudha si pejabat negara, 1

8 Agustus 2008

perkenalkan
nama saya:
dhudha
tapi
bukan duda

anak saya dua
dari istri tua
dan masih ada pula
lima
dari istri kedua

kalau
sampeyan tanya
kenapa bisa sampe
kebobolan lagi, lima
soalnya, saya ini keseringan lupa
membungkus
kepala bola
pake karet bermerek sutera

dan sepertinya, sodara jelata
anak saya masih
bakal bertambah pula
soalnya
saya yang bukan duda
bakal
punya istri ketiga
dan dia sudah sungguh-sungguh berkata, pake sumpah segala-gala
bakal bikin saya, keseringan lupa dengan segala
hingga
beranaklah
dia
sampai
sembilan belas tiga

dan kalau
sampeyan tanya
apa saya bisa mengongkosi mereka
tentu saja saya bisa
wong saya ini kan …
pejabat negara
yang lihai olah-olahan angka

soal ongkos?
apa yang saya tak bisa?

asal tau saja YA!
Saat ini, selingkuhan saya jumlahnya ada tiga belas tiga
dan saya tidak pernah kurang apa-apa
biarpun selingkuhan saya itu demennya foya-foya
hla wong, yang ngongkosi foya mereka
adalah negara. kok.
Ha!

Pol!tik

6 Agustus 2008

Apakah selamanya politik itu kejam, …
apakah selamanya dia datang tuk menghantam; …
–dan seterusnya, dan seterusnya…
Begitulah sebagian penggalan dari bait-bait nyanyian Iwan Fals.
Begitulah interpretasi, dan begitu pulalah kemudian lahir anggapan.

Anggapan
Dan barangkali, banyak diantara kita yang juga beranggapan demikian. Tak apalah. Lalu, apakah anggapan semacam itu benar? Mungkin iYa. Dan apakah mutlak benar? Jelas tidak. Sebab namanya saja anggapan.

Memang, ada kejadian-kejadian, ada peristiwa-peristiwa yang bagi sebagian orang dapat disebut kejam. Dan kejadian atau peristiwa-peristiwanya bersangkut paut dengan makhluk bernama politik. Dan bukan hanya itu, makhluk bernama politik ini kerapkali pula disebut busuk, kotor dan entah apa lagi. Wuih. Apa boleh buat.

Kita sederhanakan saja, politik bukanlah kata atau konsep asli bahasa kita, politik adalah istilah yang diimpor dari Yunani, negerinya kaum filsuf dan daerah asal dari demokrasi. Akar dari politik adalah POLIS, suatu istilah untuk mendefinisikan daerah/wilayah yang merdeka dan berdaulat; jadi dalam konteks sekarang dapat diartikan sebagai wilayah negara (yang berdaulat). Di antara kata jadian dari polis adalah politik; bermakna segala hal-ihwal yang menyangkut pengurusan, pengelolaan dan pengorganisasian lembaga-lembaga dalam suatu negara. Dari konsep polis masih banyak konsep-konsep lain yang berakar dari kata tersebut, polisi, metropolis, metropolitan, juga politea yang barangkali tetap terdengar asing di kuping kita. Dan satu lagi diantaranya adalah kata dalam bahasa Inggeris: POLITE. Diantara makna yang dikandung dalam polite adalah “halus, sopan, santun dan beradab”.

Dan begitulah, maka saya yang cuma tahu sistem politik teramat sangat ala kadarnya saja, tetap saja pandir dan dungu— percaya bahwa IDEA Utama dari bangunan Politik adalah SISTEM interaksi/hubungan antar makhluk manusia yang ber-ADAB dan bertujuan untuk menciptakan sistem dan lingkungan yang beradab pula.

Maka bila Iwan Fals sampai menulis bait-bait tentang kekejaman politik, sebabnya, mungkin karena motto para oknum-oknum politik adalah:
• ING NGARSA NUMPUK ARTA BANDA KANTHI CARA ALA
• ING MADYA MANGUN KUASA KANG KUMAWASA
• TUT WURI HANGGROGOTI
(Di depan menumpuk harta benda dengan cara yang tidak sewajarnya,
di tengah-tengah membangun kekuasaan yang sewenang-wenang,
dan di/dari belakang menggerogoti)

Mungkin begitu. Tapi bila benar begitu, …
Wahai, alangkah … Carut-marutnya negeri kita ini.

Gatal Tangan

6 Agustus 2008

Tulisan ini, sama sekali tidak dimaksudkan untuk bertendensi ilmiah. Sebaliknya, tulisan ini justru lebih bersifat asumtif dan cerminan dari sudut pandang (pengalaman) pribadi yang dengan demikian, tentu saja subjektif. Itu adalah bila berkaitan dengan isi. Bila dikaitkan dengan tujuan dan latar belakang penulisannya, semata-mata karena saya/penulis mengikuti sebuah pepatah yang menyatakan bahwa, lebih baik menuliskan sesuatu kendati tak lebih dari omong kosong, ketimbang mengkhayalkan gadis montok padat berisi tapi tak tergapai. Ha!

Perspektif Seni, Aturan, dan Susunan Bahasa
Dari sudut pandang tertentu, bahasa dapat dianggap sebagai suatu seni. Terlepas dari ragam kualitasnya, sebagai seni, bahasa melahirkan syair-syair—baik yang kemudian dilagukan atau hanya sekadar dibacakan saja; bahasa juga melahirkan karya-karya sastra. Perspektif seni secara lisan maupun tulisan, pun kemudian memunculkan komunikasi bahasa dengan ragam kesantunan yang berbeda. Sebagai contoh, seseorang yang sedang ingin menyendiri dan tak ingin diganggu, bisa saja menyuruh orang lain yang mendekatinya untuk pergi dengan cara membentak. Tapi bisa pula disampaikan dengan permintaan yang sopan. Dalam bahasa tulis, kata “Pergi!” dan “Tolong, dong… jangan ganggu saya…” keduanya dimaksudkan untuk memberikan efek yang sama, tetapi tentu saja suasana dan rasa bahasa yang dihasilkan efeknya berbeda. Yang pertama lebih kasar, yang kedua lebih halus. Begitulah. Oleh karena itu, makna dalam bahasa selain dibangun oleh kata-kata, juga oleh intonasi (bahasa lisan) dan tanda baca (bahasa tulisan). Dan ketika kata-kata dirangkai, tentu saja maknanya juga ditentukan oleh susunannya.
Begini contohnya, bila saya membuat pernyataan: “Pasar kakak roti ke beli pergi.” Bisakah Anda mengerti maksudnya, menginterpretasi dan/atau menafsirkan dengan tepat? Saya yakin bisa. Tapi pastilah ada sedikit hambatan, paling tidak, waktu untuk penafsiran menjadi bertambah sekian detik, atau bahkan sekian menit. Bisa saja dan begitulah. Memang tak ada larangan untuk menyusun kalimat macam begitu, tapi yang niscaya, ponten menjadi berkurang atau malah tak ada sama sekali. Mengapa? Lantaran itu sekadar kalimat melantur. Dan karenanya, ternyatalah, dalam berbahasa ada aturan-aturan penyusunan kata dan yang juga niscaya, tentu saja adalah logika, tata urut dan prosedur dalam bertutur. Itu pula sebabnya bila kemudian muncul ungkapan bahwa dari tutur bahasanya tercermin logika seseorang. Dan dengan demikian, tercermin pulalah cara pandangnya dan caranya berpikir.
Denotasi: Perspektif Gatal Tangan
Bila saya menyatakan bahwa bahwa ‘Bahasa adalah Seni?’ hal itu semata-mata adalah ungkapan, bukan suatu pernyataan yang punya sifat mutlak, general ataupun universal. Sebab, di luar sana ada bahasa yang, dalam ungkapan Betawi, disebut ‘Asal mBacot’. Itulah bahasa yang kasar, yang tidak ber-seni. Saya tak keberatan untuk mengaku bahwa bahasa tutur dalam tulisan ini jauh dari kategori untuk bisa disebut sebagai bahasa yang memiliki nilai seni. Karena dalam seni, ada keindahan, ada kehalusan dan ada kualitas. Maka, Anda jangan berharap menemukan kehalusan, keindahan dan apalagi kualitas dalam tulisan ini. Tapi baiklah, saya akan mengkategorikan tulisan ini sebagai bahasa ‘gatal tangan’ saja, semata-mata karena tangan saya gatal ingin menulis.
Menurut orang yang pinter-pinter dan paham tentang bahasa, bahasa punya fungsi macam-macam. Satu diantaranya dan yang paling utama adalah sebagai alat komunikasi. Dan ihwal yang dikomunikasikan pun ada bermacam ragam: ada komunikasi pikiran, gagasan, perasaan dan entah apa lagi. Pada setiap ragam ihwal yang dikomunikasikan, ada prasyarat tertentu yang sebaiknya ditaati. Contohnya saja, dalam komunikasi informal, seseorang bisa saja menggunakan kalimat-kalimat ungkapan yang maknanya bisa mendua (ambigu) dan bermakna lebih dari satu; tetapi, dalam komunikasi ilmu, ada tuntutan untuk menggunakan kosakata yang definitif, yang maknanya lebih pasti. Mengapa begitu? Wah, punten saja ya, kalau Anda pengen tahu mengapa begitu, tolong tanyakan langsung pada para scientist saja, itu lho para ilmuwan. Tapi jangan tanyakan pada cendekiawan, soalnya cendekiawan ini termasuk dalam kategori yang ambigu. Lantaran, kata orang Jawa, kata cendekia itu asalnya dari kata “cendek ya” (pendek ya). Walhasil, istilah cendekiawan itu tak lebih dari ungkapan ‘mentereng’ untuk orang yang pendek pikir dan cethek ilmu. Wahai, alangkah… kurang asemnya itu orang yang ngampuk cendekiawan.
Dan demikianlah, dalam bahasa ada ungkapan yang disebut dengan nama: KONOTASI, suatu bentuk percabangan makna. Misalnya saja, kalimat “Ia dikenal sebagai seorang yang ringan tangan” dapat ditafsirkan bahwa orang yang dirujuk tersebut dikenal sebagai (1) seseorang yang suka menolong atau gemar membantu, tetapi dapat juga ditafsirkan sebagai (2) orang yang suka memukul, menampar dan melayangkan tangan untuk menyakiti.
Nah, dalam bahasa kita–kebetulan juga–ada kosakata “kebesaran”. Kata tersebut dapat ditafsirkan sebagai (1) sesuatu yang menunjukkan kehormatan dan/atau ketinggian martabat; sayangnya, dapat pula ditafsirkan (2) dengan makna terlalu besar. Wahai, mengapa disayangkan?
Begini, dimisalkan tertulis dalam sebuah berita penggalan kalimat: “…Ia secara khusus mengenakan jubah kebesaran untuk menghadiri pertemuan itu.” Bagaimanakah Anda menafsirkannya? Apakah persepsi Anda tentang orang yang mengenakan jubah kebesaran itu?
Apakah dalam makna konotatif, yang berarti orang tersebut bermartabat? Terhormat? Memiliki kharisma dan keagungan yang sulit dibantah? Ataukah jubah kebesaran dalam makna denotatif, dalam makna sesungguhnya: jubah yang terlalu besar? Mungkin karena pinjam? Hwah, ladalalah. Masalahnya kemudian adalah karena yang denotatif pun masih dapat dipelesetkan dan digunakan untuk menyindir si pemakai sebagai: manusia kerdil.
Seperti saya. Ha…!

Penjemput
Mohon maaf, janganlah sub judul ini Anda anggap nyeleneh, apalagi sinting. Hal ini saya lakukan semata karena di bagian awal ada pengantar, saya pikir kalau tak ada penjemputnya, alangkah menyedihkan: macam (orang) tanpa kerabat tanpa kenalan. Jadi alangkah baik bila kemudian yang datang dan yang menjemput bersalam pikir dan gagasan. Atau kalaupun maksud itu tak sampai karena pikir dan gagasan ibarat gunung yang sulit dipeluk, maka bertukar dan bersalam gumam pun, kiranya cukuplah. Sekian, terima kasih, dan wassalam.