Gatal Tangan

6 Agustus 2008

Tulisan ini, sama sekali tidak dimaksudkan untuk bertendensi ilmiah. Sebaliknya, tulisan ini justru lebih bersifat asumtif dan cerminan dari sudut pandang (pengalaman) pribadi yang dengan demikian, tentu saja subjektif. Itu adalah bila berkaitan dengan isi. Bila dikaitkan dengan tujuan dan latar belakang penulisannya, semata-mata karena saya/penulis mengikuti sebuah pepatah yang menyatakan bahwa, lebih baik menuliskan sesuatu kendati tak lebih dari omong kosong, ketimbang mengkhayalkan gadis montok padat berisi tapi tak tergapai. Ha!

Perspektif Seni, Aturan, dan Susunan Bahasa
Dari sudut pandang tertentu, bahasa dapat dianggap sebagai suatu seni. Terlepas dari ragam kualitasnya, sebagai seni, bahasa melahirkan syair-syair—baik yang kemudian dilagukan atau hanya sekadar dibacakan saja; bahasa juga melahirkan karya-karya sastra. Perspektif seni secara lisan maupun tulisan, pun kemudian memunculkan komunikasi bahasa dengan ragam kesantunan yang berbeda. Sebagai contoh, seseorang yang sedang ingin menyendiri dan tak ingin diganggu, bisa saja menyuruh orang lain yang mendekatinya untuk pergi dengan cara membentak. Tapi bisa pula disampaikan dengan permintaan yang sopan. Dalam bahasa tulis, kata “Pergi!” dan “Tolong, dong… jangan ganggu saya…” keduanya dimaksudkan untuk memberikan efek yang sama, tetapi tentu saja suasana dan rasa bahasa yang dihasilkan efeknya berbeda. Yang pertama lebih kasar, yang kedua lebih halus. Begitulah. Oleh karena itu, makna dalam bahasa selain dibangun oleh kata-kata, juga oleh intonasi (bahasa lisan) dan tanda baca (bahasa tulisan). Dan ketika kata-kata dirangkai, tentu saja maknanya juga ditentukan oleh susunannya.
Begini contohnya, bila saya membuat pernyataan: “Pasar kakak roti ke beli pergi.” Bisakah Anda mengerti maksudnya, menginterpretasi dan/atau menafsirkan dengan tepat? Saya yakin bisa. Tapi pastilah ada sedikit hambatan, paling tidak, waktu untuk penafsiran menjadi bertambah sekian detik, atau bahkan sekian menit. Bisa saja dan begitulah. Memang tak ada larangan untuk menyusun kalimat macam begitu, tapi yang niscaya, ponten menjadi berkurang atau malah tak ada sama sekali. Mengapa? Lantaran itu sekadar kalimat melantur. Dan karenanya, ternyatalah, dalam berbahasa ada aturan-aturan penyusunan kata dan yang juga niscaya, tentu saja adalah logika, tata urut dan prosedur dalam bertutur. Itu pula sebabnya bila kemudian muncul ungkapan bahwa dari tutur bahasanya tercermin logika seseorang. Dan dengan demikian, tercermin pulalah cara pandangnya dan caranya berpikir.
Denotasi: Perspektif Gatal Tangan
Bila saya menyatakan bahwa bahwa ‘Bahasa adalah Seni?’ hal itu semata-mata adalah ungkapan, bukan suatu pernyataan yang punya sifat mutlak, general ataupun universal. Sebab, di luar sana ada bahasa yang, dalam ungkapan Betawi, disebut ‘Asal mBacot’. Itulah bahasa yang kasar, yang tidak ber-seni. Saya tak keberatan untuk mengaku bahwa bahasa tutur dalam tulisan ini jauh dari kategori untuk bisa disebut sebagai bahasa yang memiliki nilai seni. Karena dalam seni, ada keindahan, ada kehalusan dan ada kualitas. Maka, Anda jangan berharap menemukan kehalusan, keindahan dan apalagi kualitas dalam tulisan ini. Tapi baiklah, saya akan mengkategorikan tulisan ini sebagai bahasa ‘gatal tangan’ saja, semata-mata karena tangan saya gatal ingin menulis.
Menurut orang yang pinter-pinter dan paham tentang bahasa, bahasa punya fungsi macam-macam. Satu diantaranya dan yang paling utama adalah sebagai alat komunikasi. Dan ihwal yang dikomunikasikan pun ada bermacam ragam: ada komunikasi pikiran, gagasan, perasaan dan entah apa lagi. Pada setiap ragam ihwal yang dikomunikasikan, ada prasyarat tertentu yang sebaiknya ditaati. Contohnya saja, dalam komunikasi informal, seseorang bisa saja menggunakan kalimat-kalimat ungkapan yang maknanya bisa mendua (ambigu) dan bermakna lebih dari satu; tetapi, dalam komunikasi ilmu, ada tuntutan untuk menggunakan kosakata yang definitif, yang maknanya lebih pasti. Mengapa begitu? Wah, punten saja ya, kalau Anda pengen tahu mengapa begitu, tolong tanyakan langsung pada para scientist saja, itu lho para ilmuwan. Tapi jangan tanyakan pada cendekiawan, soalnya cendekiawan ini termasuk dalam kategori yang ambigu. Lantaran, kata orang Jawa, kata cendekia itu asalnya dari kata “cendek ya” (pendek ya). Walhasil, istilah cendekiawan itu tak lebih dari ungkapan ‘mentereng’ untuk orang yang pendek pikir dan cethek ilmu. Wahai, alangkah… kurang asemnya itu orang yang ngampuk cendekiawan.
Dan demikianlah, dalam bahasa ada ungkapan yang disebut dengan nama: KONOTASI, suatu bentuk percabangan makna. Misalnya saja, kalimat “Ia dikenal sebagai seorang yang ringan tangan” dapat ditafsirkan bahwa orang yang dirujuk tersebut dikenal sebagai (1) seseorang yang suka menolong atau gemar membantu, tetapi dapat juga ditafsirkan sebagai (2) orang yang suka memukul, menampar dan melayangkan tangan untuk menyakiti.
Nah, dalam bahasa kita–kebetulan juga–ada kosakata “kebesaran”. Kata tersebut dapat ditafsirkan sebagai (1) sesuatu yang menunjukkan kehormatan dan/atau ketinggian martabat; sayangnya, dapat pula ditafsirkan (2) dengan makna terlalu besar. Wahai, mengapa disayangkan?
Begini, dimisalkan tertulis dalam sebuah berita penggalan kalimat: “…Ia secara khusus mengenakan jubah kebesaran untuk menghadiri pertemuan itu.” Bagaimanakah Anda menafsirkannya? Apakah persepsi Anda tentang orang yang mengenakan jubah kebesaran itu?
Apakah dalam makna konotatif, yang berarti orang tersebut bermartabat? Terhormat? Memiliki kharisma dan keagungan yang sulit dibantah? Ataukah jubah kebesaran dalam makna denotatif, dalam makna sesungguhnya: jubah yang terlalu besar? Mungkin karena pinjam? Hwah, ladalalah. Masalahnya kemudian adalah karena yang denotatif pun masih dapat dipelesetkan dan digunakan untuk menyindir si pemakai sebagai: manusia kerdil.
Seperti saya. Ha…!

Penjemput
Mohon maaf, janganlah sub judul ini Anda anggap nyeleneh, apalagi sinting. Hal ini saya lakukan semata karena di bagian awal ada pengantar, saya pikir kalau tak ada penjemputnya, alangkah menyedihkan: macam (orang) tanpa kerabat tanpa kenalan. Jadi alangkah baik bila kemudian yang datang dan yang menjemput bersalam pikir dan gagasan. Atau kalaupun maksud itu tak sampai karena pikir dan gagasan ibarat gunung yang sulit dipeluk, maka bertukar dan bersalam gumam pun, kiranya cukuplah. Sekian, terima kasih, dan wassalam.

Tags: , ,

Tinggalkan Balasan