Arsip untuk November, 2008

Mencari Keteladanan

25 November 2008

tulisan ini lebih merupakan suatu tanggapan terhadap tulisan dengan judul: “Pelajaran = Make Me Stress” yang terbit di blog asbirdsflying.multiply.com

apa yang saya tulis adalah upaya untuk lebih mendekatkan fenomena-fenomena sains dengan diri saya sendiri, karena saya bukanlah makhluk dengan kecerdasan yang adequat untuk bisa gampang memahaminya. ketika SMA dulu, sistem periodik unsur kimia saya bayangkan sebagai sebuah ruang kelas dengan susunan bangku yang sedemikian rupa dengan tempat paling depan adalah pak guru Hidrogen dan asistennya pak Helium, yang lainnya adalah teman-teman saya. tapi seperti juga teman-teman sekolah saya yang sedikit saja tinggal dalam ingatan, teman-teman dari kelas periodik itu pun, kini hanya sedikit saja yang ingat. tapi paling tidak, dulu menjadi jauh lebih mudah mengenal mereka teman-teman sekelas yang jumlahnya ratusan itu, yang tergabung dalam klub alkali, klub alkali-tanah, klub glory-8, klub halogen, dan klub-klub lainnya. bahkan sekadar memahami, otak cekak saya mesti bekerja keras.

teman-teman itulah yang memberikan keteladanan pada saya untuk berusaha taat-azas, laras-etik. sebab, saya berjuang untuk menanamkan pemahaman itu ke dalam GEN-etika dan inteli-GEN-si saya. sesuatu yang sungguh sulit lantaran kurangnya kecerdasan saya. saya menanggapinya tidak semata-mata sebagai ion-ion QUEST yang menantang ego saya, tapi yang jauh lebih penting adalah karena gen-gen itulah yang bakal saya wariskan pada anak-anak saya, yang bakal diwariskan dari anak-anak saya pada anak-anaknya, dan demikian seterusnya. betapa, bagi saya, hal itu terasa sangat sebagai tanggung jawab genetis yang demikian beban.

saat id-entitas saya berusaha memimpin masyarakat seluler negeri badan ini, wahai ….. betapa saya menemukan bahwa masyarakat sel saya ternyata masih sedemikian primitif, bodoh, juga congkak dan betapa berat mendidik dan mencerdaskan diri sendiri. betapa sulit memahami tarian quest-ions yang sedemikian rentak, demikian dinamik dan demikian tantrik.

maka disinilah saya, mencari keteladanan dari bukan manusia tapi berada dalam diri manusia dan semesta.

Kepada para sahabat dari kerajaan Fisio-Kimia

ketika keteladanan, sungguh, sedemikian sulit ditemukan pada manusia, keteladanan mulia yang rendah-hati justru saya temukan pada sahabat-sahabat dari kerajaan kimia…..


Untuk adinda Helium, tante Neon, mas Argon, mas Krypton, mBak Xenon dan om Radon, terima kasih atas teladan kerendah-hatiannya ya….. panjenengan semua, membawa sifat mulia yang memang sudah dari sononya. panjenengan sungguh tidak congkak, tidak sombong pamer kehadiran di tengah-tengah pergaulan masyarakat unsur kimia. Panjenengan semua sungguh sulit ditemui, lebih suka sepi menepi dan sunyi sembunyi dalam manembah Gusti ingkang Makarya Jagad. Panjenengan semua sungguh-sungguh dari golongan mulia yang tidak korup, tidak dakah-dakah serakah merampas meminta harta-harta elektron dari masyarakat unsur yang lain. Penepian diri panjenengan semua, insya Allah, bukan lantaran panjenengan memusuhi golongan-golongan lain, tapi semata-mata karena: Adequat…. Harta benda elektron panjenengan semua sangat cukup untuk membuat panjenengan menjadi demikian: STABIL…!

golongan emot-ion panjenengan semua ini memang sudah demikian terkenal stabil. kulit terluar panjenengan semuanya tak bercacat-lubang lantaran kurang elektron, juga tak menonjolkan congkak lantaran berlebih elektron.

Untuk sahabat-sahabat lain, mohon maaf kalau tak sempat disebut, lha wong sampe ratusan kok…. Terima kasih karena telah memberikan keteladanan menakjubkan untuk berseikat-senyawa, saling membuat diplomasi dalam perundingan-perundingan ION-ik maupun pakta-pakta kovalensi untuk membangun semesta. Betapa menakjubkan dan sungguh …….. luar biasa…! Betapa kalian semua terkumpul dalam beragam organ-ionisasi, partai-partai kovalensi, betapa berbedanya golongan-golongan kalian, betapa beda usia periodik panjenengan semua tapi toh … tak pernah kudengar ada perdebatan di antara kalian, tak pernah kudengar ada peperangan di antara kalian, yang kalian lakukan adalah: membangun semesta. membentuk dewan-dewan katalisator untuk mempercepat pembangunan kerajaan kimia.

Manusia-lah yang demikian bejat, mengungkap rahasia FISI-mu dan membuat beberapa anggota masyarakat kalian sebagai senjata pemusnah manusia, senjata pemusnah makhluk hidup, senjata perusak dunia dan lingkungannya. na’udzubillahimindzalik.

Terima kasih pada panembahan oksigen-nutrilion yang menyehatkan.

Pada tante Aurum, saya mohon maaf, fash.ion tante memang terlihat molek, tapi tak cocok dengan, kesederhanaan saya yang cuma gelandangan di bumi Allah ini. Tante Aurum terlalu glamour buat saya. punten ya tante……

terima kasih untuk adinda Iodium, kehadiran adinda memang sangat dibutuhkan masyarakat manusia, untuk—insya Allah, turut membangun kecerdasan mereka. Juga terima kasih yang mendalam untuk sahabat-sahabat unsur yang berseikat-senyawa dalam majelis karbohidrat, dalam majelis protein, dalam majelis enzema, sungguh telah mendukung kelangsungan hidup dan … insya Allah juga, kelangsungan kecerdasan masyarakat manusia, yang untuk saat ini, betapa: D.E.K.A.D.E.N.s ……….Astaga…!..!

tentang Konstitusi Matematika, Fisika, Kimia
semoga, selalu ketakjuban dan ketercengangan pada rumusan-rumusan matematis:
:undang-undang sederhana himpunan manusia
:undang-undang sederhana fungsi pemetaan dengan domain cinta dari faktor-faktor definitif DNA
:undang-undang sederhana permutasi fakta unik in.di.vi.dua.vit.a-lit.a—c.i.n.t.a
:undang-undang azasi persamaan kuadrati tunggu waktu.cinta..!-ada.determinan.si-nya.L.NYA

semoga, ketundukan pada:
fisika:konstitusi waktu.dan.ruang.dan.pengukuran yang demikian menakjubkan otak cekak ini
fisika:konstitusi azas kelembaman yang mengantarkan pada tujuan: ketenangan
kimia:konstitusi thermodinamika yang demikian aduhai:menimbulkan kritik pada diri sendiri.
kimia:konstitusi paling.teladan masyarakat unsur membangun semesta

:cengang.asyik.takjub.dan.kerap-bikin:cengenges sendirian, pilu sendirian, mbrebes sendirian, dan sepi yang menyendirikan:pada sunyi yang menyembunyikan:pada hening yang menyepikan:pada bunyi yang menghalus-lembutkan:pada peluruhan yang menumbuhkan kecintaan:pada kehidupan….! .:. ..!..!..!..!..!..!..!.. .:. ..!..!..!..!..!.. .:.
terima kasih.terima kasih.terima kasih

Vektor

25 November 2008

dalam fisika, dikenal sebagai besaran yang selain mempunyai nilai juga mempunyai arah.

begini, …. dimisalkan: dua orang saling berhadapan dengan sebuah vektor di tengahnya, dua konflik akan langsung muncul dalam sempitnya wawasan. orang pertama mengatakan panjang (nilai) vektor itu 4 inch, sedangkan orang kedua mengatakan panjangnya 10 sentimeter. konflik sudah barang tentu akan berkepanjangan tanpa ujung bila masing-masing tidak berusaha memahami bahwa kedua ukuran itu bila saling konversi adalah ’sama’.

konflik kedua akan muncul berkaitan dengan arah. seorang di antaranya mengatakan arah vektor itu ke kiri sedang yang kedua mengatakan arahnya ke kanan. lagi, bila eyel-eyelan berkelanjutan semata lantaran sempit wawasan, konflik tak akan ada ujung penyelesaian. padahal dengan menyatakan arahnya berdasarkan mata angin, persoalan akan bisa selesai.

baik tentang nilai maupun tentang arah, bila dilihat dari sudut pandang subyektif tentu saja keduanya benar belaka. tak ada yang keliru. konflik terjadi bukan lantaran ada keliru pada salah satu, konflik terjadi semata-mata lantaran eyelan sempit wawasan. yang diperlukan kemudian, barangkali adalah instalasi software-software open-mind.

sebagai fasilitator belajar, saya bukanlah orang yang menguasai matematika, fisika, ataupun kimia; tapi saya berusaha menggunakan fenomena-fenoma dalam ilmu itu untuk mendekatkan siswa didik saya dengan keseharian mereka sambil terus berharap mereka bisa memahami dan kemudian bisa lebih toleran terhadap perbedaan pendapat dan pandangan dari orang lain. dan semoga, saya juga bisa begitu, dengan insya Allah.

Himpunan

25 November 2008

merupakan materi pembelajaran paling awal yang diberikan kepada peserta didik tingkat dasar. nyaris selalu menggunakan contoh: himpunan buah-buahan. dan sebenarnya, juga bisa diintegrasikan dalam pembelajaran kewarganegaraan dengan contoh kasus: himpunan suku bangsa di indonesia; himpunan agama di indonesia. atau juga dalam pelajaran geografi: himpunan pulau-pulau di indonesia, himpunan daerah waktu, himpunan penduduk sebuah desa/kecamatan/kabupaten. atau yang paling dekat: himpunan warga sekolah.

… himpunan,

menurut saya merupakan teori organisasi yang paling simpel dan mudah difahami. yang orang dewasa pun mestinya juga berusaha memahami kesimpelannya yang mencerahkan. begini…….!

dasar filosofis yang dapat mengukuhkan kebersamaan suatu masyarakat adalah irisan himpunan dari nilai-nilai masyarakat yang tergabung dalam himpunan tersebut. maka, dengan demikian, tuntutan dari sebagian masyarakat &/ partai politik yang hendak menyisipkan &/ menambahkan frasa ‘dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluk-pemeluknya’ di belakang sila ketuhanan yang maha esa, hal itu akan menimbulkan konflik dalam irisan himpunan nilai tersebut. dalam gabungan anggota himpunan, nilai tersebut tentu saja terakomodasi, tapi menjadikannya sebagai irisan himpunan…? tentu saja akan menjadi pemaksaan bagi anggota himpunan lain yang tidak menganut nilai tersebut dan sekaligus bertentangan dengan: tidak ada paksaan dalam Diin.

Negeri Badan

25 November 2008

setiap entitas-id sadar, adalah raja bagi masyarakat seluler negeri badannya.

dan tentu saja,…

tidaklah mudah memanage masyarakat sel daerah khusus ibukota otak yang kerap riuh berkonflik pikiran, masyarakat sel kabupaten butun yang teramat sering berkonflik batin, dan tidaklah pernah mudah untuk membuat masyarakat seluler sekujur badan mematuhi tatanan hukum alam-i.

bukankah ada contoh yang amat sangat jelas pada laki-laki, betapa perabotnya ber-TENTANG-AN dengan prinsip inersia…? bertentangan dengan rumusan Hukum tentang Gerak I yang ditulis ulang Newton…?

Aneh sebenarnya, betapa sains dan postulat-postulatnya, kerap dianggap sebagai bikinan manusia justru oleh mereka yang mengaku ‘agamis’.

postulat-postulat alam ada sejak alam semesta ini ada. menyatu dan tetap menjadi satu. manusia tak lebih dari sekadar pe-riset, yang lalu sekadar menulis ulang, bukan mencipta.

‘dikotomi’ tangan

24 November 2008

Apakah Anda termasuk orang yang ketika memberi sesuatu pada anak, anak tersebut menerimanya dengan tangan kiri, … lalu Anda berkata: “…pakai tangan baik do….ng….!”

nah, … menurut saya, itu merupakan contoh dari pemrogram yang tidak baik terhadap otak anak. Sebab, Tuhan mengkreasikan organ-organ tubuh kita dengan fungsi-fungsi tertentu yang, tentu saja menurut saya, nihil dari ketidakbaikan.

anggapan dari sebagian orang tua yang semacam itu, akan menjadi, sekaligus, hujatan bahwa Tuhan telah berbuat ‘Tidak Baik’ dengan kreasi-Nya. na’udzu billahi min dzalik. dikotomi tangan kanan-kiri, bagi saya tak lebih dari ihwal keseimbangan semata, bukan dikotomi baik-buruk.

nanditya bela

24 November 2008

menyebut nama anak secara lengkap, dengan intonasi tertentu, adalah cara saya menunjukkan ketidaksetujuan atau kemarahan terhadap sikap & perilaku anak. terkadang, ungkapan kata: “… ayah marah nih…!” masih diperlukan untuk penegasan. anak pun kemudian belajar, sehingga tahu bahwa suatu penyebutan nama adalah sekadar panggilan atau sebagai teguran ketidaksetujuan atau bahkan kemarahan. cara semacam itu biasanya cukup. betul, adakalanya tidak berhasil, sehingga menimbulkan kata-kata berikutnya dengan intonasi yang makin keras: Marah!

begitulah kehidupan.

kemarahan, adakalanya juga bisa diikuti dengan hal-hal yang kemudian dapat kita persepsi sebagai: Indah! Pesona!

nyaris sama dengan setiap anak normal lainnya, saya yakin, nanditya juga bisa bikin kesal dan marah orangtua. ihwal sebabnya bisa saja bermacam-macam.

ada sekali waktu ketika diella nanditya beroleh kemarahan saya, tak ada ibu dan neneknya yang bisa menjadi ‘perlindungannya’, maka pergilah dia pada abangnya: mencari perlindungan. mencari pelukan. yang saya ingat, awalnya abang kagok. barangkali lantaran khawatir dan was-was bakal kena imbas kemarahan. pandangan mata abang itu terasa melekat di benak, yang lantas membuat saya –lebih karena dorongan instingtif—menyingkir, tapi tidak jauh sambil tetap merasakan di belakang punggung: adik yang dipeluk abangnya. hal semacam itu kemudian sering berulang. dan pada kali berikut dan selanjutnya, ada pandangan yang juga berubah pada mata abang, suatu campuran: antara ‘ancaman diam’ yang seolah-olah berkata “…awas kalau masih marahin adik…” tapi sambil juga takut-takut kalau-kalau dia ikut kena marah pula. kali seperti ini terjadi, saya menyingkir sambil setengah geli. geli yang saya bikin tetap sembunyi. tapi tentu saja sambil juga senang: bahwa si abang melakukan ‘bela adik’.

kali yang lain, adiklah yang ‘bela abang’.
ada sekali waktu ketika saya marah agak panjang pada abang,
mendadak saja suara adik: “bun yanummalshuu……..ss!”
… … …
wahai………………!
betapa panggilan itu langsung membuat kata-kata saya hilang entah kemana. dan…
perasaan saya…?
tentu saja tak bisa digambar dan dilukis dengan kata.
tak ada frasa yang bisa disusun.
tapi tentu saja ada semacam rasa:
takjub…!
ada pesona mendengarnya.
teguran, dengan cara menyebut nama lengkap.
a-Ha!
betapa pesona.

abang punya cara,
adik juga punya cara,
untuk saling bela.
wahai…
pesona…
betapa nanditya!

(tentang pemilik blog asbirdsflying.multiply.com dan adiknya)

ToT_MT_ICT, refleksi 1

21 November 2008


9 sampai 12 november 2008.
menjadi 1 di antara 50 peserta ToT MT ICT gelombang V sumatera selatan.
menjadi 1 di antara 26 peserta kelas B.
tempat pelatihan: fakultas ilmu komputer universitas sriwijaya.
dengan tambahan iming-iming:
sertifikat taraf internasional, dan
notebook/laptop taraf janji-janji yang entah juntrungnya.

——-
sejak tahun pelajaran 2005/2006.
menjadi satu di antara fasilitator belajar di smp negeri 3 ogan komering ulu, kecamatan lubukraja, desa transmigrasi batumarta 2.

dan sejak itu, pelatihan bukanlah hal yang baru. sebab, beberapa hari dalam seminggu, kelas TIK adalah kelas pelatihan. nyaris selalu kelas pelatihan.

sebagai contoh saja, …

meskipun masih sekadar informasi yang ala kadarnya, seperti jadwal grand prix formula-1 atau jadwal pertandingan world cup soccer ataupun euro cup dan juga sedikit informasi pengetahuan yang saya akses via telkomnet instan (sekarang drop sampai tak lebih dari 19,.. kbps sehingga cuma per-cuma) dari komputer rumah, lalu saya tempel di papan informasi & pengumuman. dan kemudian menjadikannya sebagai sedikit keisengan di kelas:
“….”
“….”
“siapa di antara kalian yang penah meng-akses internet…?”
“…(diam)…”
“satu pun belum ada…?”
“belum pa….k”
“ada di antara kalian yang pernah membaca informasi dari internet…?”
sebagian diam. sebagian menggeleng.
“ada yang sudah baca lembaran-lembaran yang saya tempel di papan informasi…?”
sebagian diam. sebagian menjawab sudah.
“sudah ada yang pernah mendapatkan informasi dari internet…?”
“belum pa…..k” sebagian saja yang biasanya dengan senang hati dan enteng bibir menjawab.
“wah…mbelgedhes kamu…! katanya sudah baca…. kok ditanya sudah pernah mendapatkan informasi dari internet, jawabnya belum…?! lah wong itu ambilnya dari internet…….”
maka, … sebagian siswa ada yang plongo. sebagian lain mesem malu. sebagian lagi cuma cengenges, tapi sadar bahwa mestinya menjawab ‘iya’.

dan maka, …
begitulah hari-hari. menjadi pelatihan.
untuk berfikir.
untuk sadar.
dan untuk belajar.

dan bagi saya, ….
empat hari mengikuti ToT_MT_ICT di palembang, lebih menjadi sebuah ‘konfirmasi’ terhadap apa yang telah berusaha saya lakukan selama menjadi fasilitator dalam pembelajaran siswa didik saya.
empat hari yang juga menghasilkan kesadaran akan adanya kealpaan dalam diri saya.
empat hari yang juga menghasilkan otokritik bagi diri saya.

menjadi konfirmasi, ketika hari pertama pak suTarno mengawali modulnya dengan games dan permainan berfikir……………. karena dalam pembelajaran yang saya lakukan, saya ambil gambar-gambar dari buku thinkertoy-nya michael michalko sebagai bahan untuk pembelajaran (terutama untuk melatih divergensi dalam berfikir). bahan-bahan untuk itu mudah-mudahan bakal bertambah lantaran seusai pelatihan, saya dapat (beli) buku “mengoptimalkan otak dengan sistem biolearning” yang ditulis Femi Olivia (2008), terbitan ‘elex media komputindo’.

menjadi konfirmasi, ketika di hari kedua pelatihan pak Abdiansyah memberdirikan para peserta untuk pindah ke komputer peserta lain, lalu membuat review terhadap pekerjaan rekan lain…………… karena dalam pembelajaran olahkata, siswa didik saya beri tugas menulis, lalu berikutnya mereka saya minta untuk saling edit atau sekadar koreksi salah ketik antar anggota kelompok; yang nyaris selalu tidak berhasil lantaran bagi mereka, komputer masih barang baru yang membikin kagok. (mestinya, lepas dari sd, para siswa itu sudah mahir kalu untuk sekadar mengetik. jadi ketika memasuki smp sudah siap lebih untuk menghasilkan produk). padahal, … rancangan tugas berikutnya adalah menggabungkan hasil kerja/tugas individu menjadi kesatuan dalam bentuk ‘koran’. metode ini –metode domino– terhenti kelanjutannya lantaran saya tak lagi mengajar penggunaan software olahkata. mudah-mudahan ini akan kembali berlanjut, kalau siswa didik saya sudah banyak posting-an di smp3oku.wordpress.com dan mereka akan saling review saling komen meski dengan kata-kata komen ala kadarnya.


empat hari yang juga menghasilkan kesadaran adanya kealpaan dalam diri saya, dan …………..
otokritik…
dalam posting-an berikutnya.

semoga dan mudah-mudahan saja, dengan judul…
ToT_MT_ICT, refleksi 2

Pengabaian terhadap Keselamatan

20 November 2008

Hidup ini indah. Ungkapan tersebut tentu saja hanya benar bagi sebagian orang. Mereka yang hidup kesehariannya memiliki lebih dari sekadar cukup harta benda untuk menikmati hidup, dan sudah tidak perlu lagi bekerja keras untuk menjalani hidup dan yang bahkan waktu senggangnya diisi dengan keasyikan untuk berfilsafat atau sekadar mengamati pergerakan harga saham. Bagi mereka yang hidupnya dijalani seperti itu tentu mudah untuk menikmati keindahan hidup. Tetapi bagi sebagian besar orang yang mesti bekerja keras untuk menafkahi hidup kesehariannya, keindahan hidup mungkin saja tak dirasakan. Juga mereka yang sakit. Hidup boleh jadi lebih merupakan penderitaan.

Dalam konteks kehidupan masyarakat bangsa kita, barangkali beberapa tahun belakangan ini termasuk saat dimana keindahan hidup tak tampak bagi kita. Setelah menikmati beberapa tahun hidup yang bersubsidi meski di bawah sebuah rezim yang cenderung besrikap represi, toh masyarakat masih bisa menikmati harga-harga kebutuhan yang murah. Dan kemudian, resesi ekonomi menjadi sebuah titik balik: bagi penguasa saat itu, juga bagi bangsa Indonesia. Demokrasi tumbuh kembang dan cenderung dipuja, tapi kehidupan kita juga seolah tak putus dirundung duka dan celaka. Baik itu oleh gempa dan bencana lainnya, ledakan lumpur panas dan beberapa ledakan bom yang dilakukan oleh oknum-oknum yang merasa dan menganggap dirinya berhak untuk mencabut nyawa manusia, juga beragam kecelakaan pada sarana angkutan/transportasi.

Saat ini ditulis, media massa masih memberitakan tentang tenggelamnya kapal Levina I. Sebelumnya, kapal tersebut terbakar dalam perjalanan menuju kepulauan Bangka-Belitung. Dan kita tahu, kebakaran tersebut meminta sejumlah korban. Tetapi seolah belum cukup dengan korban tersebut, korban baru kembali berjatuhan ketika kapal tersebut tenggelam saat investigasi terhadap insiden kebakaran sedang dilakukan.

Ada hal yang tampak menonjol dalam kejadian tersebut, yaitu tidak digunakannya jaket pelampung oleh kebanyakan rekan-rekan pemburu berita. Hasil akhirnya kita tahu, korban baru. Kejadian tersebut, bagaimanapun juga menjadi cermin dari beragam kejadian dimana kita kerapkali mengabaikan aspek keselamatan diri, baik dalam kasus pribadi, masyarakat atau secara kelembagaan.

Kita mungkin bisa mendapatkan contoh-contoh kejadian pengabaian aspek keselamatan di lingkungan sekitar kita. Dalam konteks pribadi, contoh bisa muncul dari seorang tukang kebut tanpa helm di jalan umum. Hal tersebut merupakan contoh pengabaian terhadap keselamatan sendiri dan terhadap keselamatan pengguna jalan lain. Bagaimana secara kelembagaan? Yah, Anda tahu, korupsi (yang akar katanya adalah corrupt dan berarti rusak) adalah salah satunya. Tindakan korup adalah tindakan dari pribadi-pribadi rusak yang sekaligus merusak, tentu saja hal itu bakal berdampak buruk bagi masyarakat dan negara, dan dengan demikian akan membahayakan keselamatan lembaga nilai kita.

Yang kemudian menjadi tampak jelas dalam banyak kejadian adalah bahwa, keselamatan dan kepentingan masyarakat umum masih semata-mata menjadi slogan ketimbang sebagai kebiasaan yang dilaksanakan. Maka, bila hal semacam itu tak kunjung dibenahi, yang tersisa kemudian: hidup niscaya bakal menjadi duka.

Semoga saja tidak terjadi.

Domino Hidup, 2

20 November 2008

Pada bagian sebelumnya telah disebut bahwa keinginan merupakan suatu bentuk kebutuhan yang sebenarnya artifisial ataupun semata-mata diada-adakan. Tetapi toh kebutuhan artifisial tersebut bukannya tidak berharga, sebab, peradaban dan dengan demikian kebudayaan manusia dapat berkembang dan maju juga karena adanya keinginan-keinginan manusia untuk menjalani hidup secara lebih mudah, nyaman dan enak.
Berkembangnya Kebutuhan, Melahirkan Kebudayaan
Umumnya pada masyarakat tradisional, tindakan-tindakan dan aktivitas-aktivitas anggota masyarakatnya lebih didorong oleh adanya kebutuhan-kebutuhan yang bersifat alami. Suatu bentuk kebutuhan yang mendasar berupa pangan untuk kelangsungan hidup, papan hunian untuk tinggal berteduh dari panas dan hujan, serta sandang untuk penutup badan. Pada masyarakat yang kemudian, yang lebih modern, muncul faktor lain yang mungkin saja terasa seperti kebutuhan tetapi sebenarnya tak lebih dari keinginan. Keinginan ini muncul dari adanya suatu peningkatan artifisial pada kebutuhan dasar sebelumnya. Beginilah bila digambarkan. Pangan, dari yang sebelumnya dibutuhkan perut dan badan sekadar untuk kelangsungan hidup, meningkat naik menjadi tuntutan lidah dan mulut untuk merasakan lezat dan nikmat makanan.
Kemudian papan hunian, bila sebelumnya fungsi dasarnya tak lebih dari dorongan kebutuhan adanya pelindung dari panas dan hujan, proses berikutnya muncul karena kebutuhan agar lebih tahan menghadapi panas dan hujan, atau bahkan pada daerah-daerah tertentu agar tahan dari hantaman gempa. Dan proses panjang berikutnya, meningkatkan kebutuhan dasar tersebut menjadi kebutuhan untuk hunian yang lebih nyaman dan mungkin, prestise. Dan tentang sandang, tidakkah kita kini bisa melihat betapa fashion menjadi demikian berkembang? Dan juga, sekaligus berbalik arah. Sebab, meski desain dan fashion berkembang, bahan sandang lebih beragam, kita juga dapat melihat adanya gerakan “primitifisasi” dalam hal sandang. Bayangkan, betapa banyak orang-orang yang menggunakan pakaian kurang bahan?
Bahaya dalam Domino Kehidupan
Dalam domino hidup, setiap lembaga dalam masyarakat adalah pemain, setiap anggota masyarakat adalah juga pemain, dan dari pelajaran biologi yang mengajarkan bahwa ekosistem terdiri dari beragam mata rantai kehidupan, kita dapat menyimpulkan bahwa tumbuhan dan hewan juga merupakan pemain dalam mata rantai domino kehidupan. Maka, bahaya dalam domino hidup adalah bila terjadi gap.
Pada permainan domino, gap terjadi bila sejumlah buah atau kartu tertentu telah diturunkan dan hanya satu pemain yang masih memilikinya. Dan bila pemain tersebut akhirnya menurunkannya sementara kartu-kartu pemain lainnya masih ada, maka terjadilah gap. Kartu lainnya tak bisa lagi dimainkan. Untuk kejadian semacam itu, permainan domino menyediakan solusi mudah, pemain tinggal berekenan kartu, kartu dikocok ulang dan permainan diawali lagi. Tetapi semudah itukah solusi untuk gap kehidupan nyata? Saya pikir tidak.
Misalnya saja, dalam sebuah keluarga timbul masalah, seorang anak mungkin saja memiliki pemikiran dan pendapat tertentu. Tetapi ketika ia baru mulai mengutarakan pendapat, orang tua serta merta memotong bicaranya dengan mengatakan si anak masih hijau atau masih bau minyak telon. Bila hal semacam ini berlangsung berkali-kali, akibat yang mungkin adalah anak berhenti bicara, bukan karena segan atau karena pendapat dan pemikiran orang tuanya lebih benar, tetapi semata-mata karena kemalasan yang apatis, acuh tak acuh. Maka, gagasan-gagasan yang sedianya hendak dikemukakan dan peran pemikiran yang semestinya dimainkan menjadi macet, terhenti. Alhasil, gap-lah itu.
Contoh kejadian dalam keluarga yang semacam itu mungkin saja tidak memiliki dampak langsung terhadap kehidupan sosial di masyarakat. Tetapi bila ketidakacuhan atau keapatisan anak menimbulkan bentuk pemberontakan lain dalam dirinya dan melampiaskan ketidakpuasannya semata-mata untuk menunjukkan bahwa ia tidak lagi bau minyak telon, dan tindakan pemberontakannya berdampak pada masyarakat, masalah yang kemudian timbul tentu saja menjadi tidak sepele.
Akan menjadi lebih besar masalahnya, bila yang bertindak sebagai “orang tua” adalah lembaga pemerintah atau lembaga formal lainnya dan masyarakat sebagai “anaknya”. Bila gap terjadi dan berulang terus, maka kartu-kartu pemikiran dan gagasan dalam masyarakat bisa saja berubah menjadi ledakan konflik yang berdampak luas. Maka, sudah selayaknya lembaga musyawarah menjadi benar-benar musyawarah dan tidak semata-mata arena dan ajang pura-pura musyawarah sementara keputusan-keputusan menyangkut orang banyak hanya diputuskan sepihak.
Penutup
Bila hidup adalah suatu sistem yang melibatkan banyak subsistem lainnya, kemacetan kecil pada sebuah subsistem mungkin saja terabaikan karena dampaknya tidak begitu terasa. Bila kemacetan-kemacetan kecil semacam itu berlangsung berulang-ulang, maka pengabaian-pengabaian akan menjadi sebuah kebiasaan. Dan bila kemacetan yang terjadi berdampak pada kemacetan yang nyaris total pada sebuah sistem, kebiasaan pengabaian tentu saja akan berakibat fatal.
Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana caranya? Prosedurnya? Teknisnya? Untuk lebih perduli pada lingkungan sekitar, siapa yang mesti memulainya? Apa tindakannya? Dan pertanyaan…
Demi pertanyaan…
Juga bersinambung, layaknya domino;
…? …? …? …?
Dan siapakah, …
Memiliki otoritas untuk menjawabnya?
Secara…
Tuntas!
Dalam bentuk…

Tindakan…?

Domino Hidup, 1

20 November 2008

Domino, atau gaple adalah alat permainan bagi sebagian orang. Dan pengetahuan saya tentang permainan tersebut tak lebih dari pengetahuan tentang aturan umum cara bermainnya. Begitulah. Aturan umum memainkan kartu domino atau gaple adalah menempatkan buah pertama di meja secara terbuka. Buah/kartu berikutnya disusun dengan cara mencocokkan atau menyesuaikan dengan kartu yang terbuka di meja. Demikian seterusnya hingga salah satu pemain menghabiskan atau telah membuka seluruh kartunya. Susunan kartu di meja, dari suatu sudut pandang tertentu bisa dipahami sebagai suatu jalinan berproses. Pada permainan tersebut, batas selesai selalu ada, mudah diidentifikasi, dan demikian singkat. Sedang pada kehidupan nyata, batas selesai juga ada, tetapi entah memakan waktu berapa lama. Lantas apa hubungan permainan tersebut dengan kehidupan nyata?
Perubahan: Suatu Kebutuhan untuk Penyesuaian
Contoh suatu fragmen dari domino dalam kehidupan kita dapat digambarkan sebagai berikut. Diandaikan “kartu awalnya” adalah sebuah jalan tanah dari sebuah dusun menuju ke ladang penduduk. Penggunanya adalah pejalan kaki, para petani yang menuju ladangnya; yang pada saat memanen hasil ladangnya mereka membawanya ke pasar di tempat lain dengan memikulnya atau menggunakan keruntung. Berikutnya, ladang makin berkembang, hasil makin berlimpah sehingga pikulan dan keruntung tak lagi memadai untuk membawa hasil panenan. Transaksi ekonomi pun menjadi lebih berkembang. Dan akibat kemudiannya, kendaraan bermotor, bisa pick up bisa pula truk mulai digunakan untuk mengangkut panenan, entah petani itu sendiri yang membelinya, menyewanya, atau bahkan kendaraan yang dimiliki para pedagang perantara. Lalu lintas dan lalu lalang kendaraan makin sering dan jalan tanah pun yang semula tak lebih dari jalan setapak menjadi lebih lebar dan bahunya makin terentang.
Dan kemudian, pada musim hujan kendaraan sulit melewatinya karena tanah demikian kencang menggigit roda-rodanya, ada kebutuhan untuk merubah struktur jalan. Perubahan struktur jalan dibutuhkan karena kegiatan-kegiatan ekonomi menghendaki adanya efisiensi dan efektivitas, baik bagi para pelakunya maupun terhadap sarananya. Bayangkan, bila pickup atau truk harus didorong-dorong ketika terjebak lumpur, belum lagi bila ditambah dengan as patah atau ban pecah. Waktu menjadi terbuang dan biaya penggantian sarana bertambah. Betapa tidak efisien. Dan bila pada saat-saat semacam itu ternyata pula angkong lebih cepat meluncur di jalan lumpur, betapa kendaraan menjadi demikian tidak efektif. Selain itu, jalan tersebut ternyata juga digunakan oleh penduduk desa lain yang dengan demikian, jalan tersebut menjadi penghubung antar desa pula. Maka, perubahan menjadi makin penting untuk dilakukan. Tampak pula bahwa perubahan yang terjadi diakibatkan adanya dorongan kebutuhan untuk penyesuaian yang bersifat kondisional.
Membangun
Perubahan struktur jalan dengan cara menimbun batu atau material lain yang tepat pada jalan tanah tersebut, kemudian melapisinya dengan aspal adalah sesuatu yang dapat disebut membangun. Pembangunan jalan aspal tersebut adalah efek dari adanya proses penyesuaian dari (1) kebutuhan awal bagi pejalan kaki menjadi (2) kebutuhan pengguna jalan yang bertambah dan makin bervariasi, dan antara (3) struktur jalan dengan (4) kebutuhan terhadap efisiensi dan efektivitas penggunaan jalan. Dari tinjauan tersebut, kita dapat melihat adanya proses beruntun seperti dalam permainan domino, hanya saja dalam proses kehidupan nyata yang kita jalani proses tersebut tentulah berjalan dalam waktu yang lebih lama. Karena dalam kehidupan nyata, proses tersebut melibatkan pertambahan penduduk dan segala permasalahannya, juga perkembangan teknologi dan pemanfaatannya, dan kemudian adalah peradaban yang tercipta dan berkembang beserta dampak dan implikasinya.
Antara Kebutuhan dan Keinginan
Untuk keperluan pembahasan dalam tulisan ini, kebutuhan dan keinginan kita golongkan saja sebagai masing-masing dari tipe kehendak. Antara kebutuhan dengan keinginan, secara teoritis sebenarnya mudah dibedakan. Sebab, bila seseorang menghendaki sesuatu, terminologi atau istilah yang digunakan sudah menunjukkan wilayah kehendak tersebut. Seseorang akan menggunakan kata “butuh” untuk menunjukkan kebutuhannya dan menggunakan kata “ingin” untuk keinginannya. Masalahnya adalah bahwa terkadang terdapat kerancuan pemaknaan, selain juga karena terkadang penggunaannya “dipilih” demi kesantunan bahasa yang berkaitan dengan keindahan rasa bahasa. Alhasil, dua tipe kehendak tersebut menjadi sulit dibedakan. Seseorang mungkin menyatakan ingin makan padahal, pada saat itu lebih tepat bila ia manyatakan butuh makan. Contoh tersebut menunjukkan adanya suatu bentuk kerancuan dalam penggunaan kata, tetapi hal itu sekaligus juga berkaitan dengan hal kedua, yaitu rasa santun dalam berbahasa. Sebab, saya pikir, hanya orang yang sudah kebelet makan dan demikian lapar saja yang akan mengatakan butuh makan.
Dari sudut pandang yang lain, antara kebutuhan dan keinginan bisa saja dibedakan dari karakter dasarnya. Bila suatu kehendak melebihi apa yang diperlukan oleh kebutuhan dasarnya, maka kita dapat menganggapnya sebagai semata-mata keinginan. Dalam kasus ini, yang menjadi masalah adalah bahwa apabila keinginan itu sudah terbiasa terpenuhi dan kemudian menjadi kebiasaan maka keinginan tersebut akan terasa sebagai kebutuhan. Oleh karena itu, keinginan yang semacam ini adalah suatu bentuk kebutuhan yang sebenarnya artifisial ataupun semata-mata diada-adakan.