Mengupayakan komputer sehat tanpa (anti) virus

12 Desember 2008

Yang paling utama, tentu saja adalah diri kita yang mesti diposisikan pertama kali sebagai anti virus. Usahakan untuk selalu berhati-hati. Ingat juga bahwa sangat mungkin kita kejeblos pada ketidakhati-hatian. Selalu mengingat ini akan membuat kita makin hati-hati lagi.

Kebiasaan sebagaimana tertulis dalam judul itu muncul sejak awal tahun 90-an lalu, sewaktu masih kulinyah dan nyambi kerja di penerbitan. Jaman komputer yang kami pakai masih belum berhardisk, masih pakai disket, baik sistem operasinya: DOS; maupun software lain yang populer saat itu: WS, Lotus 1-2-3, Chi-Writer, dBase-4, dan MS Word juga belum GUI macam sekarang (menunya ada di bagian bawah).

Ada sekali waktu rekan yang ribut lantaran disket datanya terdetek bervirus (jenis yang nyerang boot sector), tapi anti virus yang populer saat itu: McAffe (atau McAfee? Saya lupa) dan norton anti virus gagal membersihkannya. Obatnya sederhana dan simpel saja: ‘hancurkan’ boot sector disket pakai norton diskedit, atau yang sebangsanya, lalu gunakan diskdoctor untuk me-repair boot sector. Hasilnya: clean and clear. Jaman itu, kalau ada virus yang ngendon di disket (khusus) data, memang tak bisa lain adalah virus boot sector. Virus yang nyerang data belum ada, tidak macam jaman sekarang yang entah sudah berapa jibun jumlahnya. Kalau ada virus yang nyerang ke software atau sistem operasi, ketidakhati-hatian user-lah yang jadi sebabnya: tidak proteksi disketnya.
Solusinya juga gampang: format disketnya lalu bikin copy lagi dari backup-nya.
Nah ini menyangkut keUTAMAan ke-2: upayakan selalu ada backup.

Waktu berlalu, kemudian harddsik mulai pake. Ketemu dengan virus boot sector yang tidak bisa hilang meskipun harddisk sudah di-low level format pakai software (FDISK dari DOS misalnya). Virus boot sector memang selalu bikin ketar-ketir saya. Alhamdulillah, ada teman yang pakai komputer 386 dengan BIOS dari AMI yang ada fasilitas untuk low-level format harddisk dari BIOS. Lega.

Berlalu lagi waktu, ada 5 tahun saya tidak berinteraksi dengan komputer. Tinggal di pelosok. Kini pun masih juga di pelosok. Listrik sudah ada biar-pun kerap byar-pet. Berinteraksi lagi dengan komputer sejak pertengahan 2004 lalu, meski tidak sering, hanya kala-kala, kadang-kadang saja.

MIMPI BURUK
Kronologisnya:
Infeksi.
Ada tetangga yang minta tolong buka data di flashdisk-nya karena komputernya lagi error atau entah kenapa (katanya. Saya tak ingat pasti alasannya). Ternyata data dalam flashdisk sama sekali tak bisa ‘dibuka’. Dicoba untuk nyimpan data juga tak bisa. Jadi, “… format bae lah mas…”, pintanya. Diformat, dengan hasil: GAGAL.

Belakangan, setelah saya tanya-tanya, flashdsik itu sebenarnya telah dicobanya diformat pakai komputernya, dan gagal. Begitulah.

Beberapa hari kemudian, prilaku komputer jadi aneh: sangat lelet. Folder options hilang dari control panel dan dari menu tools jendela explorer. Ctrl+Alt+Del juga gagal menjalankan fungsinya untuk ngintip proses yang tersembunyi. Karena saya pakai jendela edisi millenium yang punya fasilitas system restore, saya coba restore ke waktu sebelum kena infeksi, fasilitas itu gagal juga ternyata.

Investigasi.
Saya pakai harddisk lain yang bersih (cuma berisi OS, juga berguna untuk mendeteksi dokumen.exe). Berdasarkan info dari rekan di sekitar yang ‘kenal’ dengan nama virusnya, saya lakukan jendela + F, ketemu dengan taburan: folder.htt, new folder dan folder lain yang namanya aneh (tidak normal). Babat habis, toh folder aslinya masih ada dan hidden attribute-nya bisa dihilangkan. Install ulang sistem plus software yang lain. Leletnya ternyata ngulang. Opsi folder lagi-lagi hilang, ctrl+alt+del lagi-lagi malfungsi.

Saya jadi penasaran. Adakan pengusutan lagi, masih ketemu dengan folder.temp dan folder.htt. Saya mau hapus langsung folder.temp dan folder.htt dari harddisk yang bersih, ternyata ada kejutan: folder-folder itu tak terbaca, seolah-olah bersih tanpa virus, virus seperti hilang begitu saja. Padahal, ketidakberesan jelas ada. Virus sudah terbaca oleh mata. Telusur-telusur, saya lupa proses-prosesnya, ujung dan pangkal mimpi buruk itu bertemu pada winzip.exe

Tes: harddisk bersih saya suntik winzip. Saya catat besaran kilobytes-nya. Bandingkan dengan sistem yang telah ber-virus, ternyata ada selisihnya. Jadi begitulah. Maka, masih tercatat di kertas label informasi dip switch cpu: temp, htt dan winzip.exe dengan tanda seru besar.

Dari cerita itu Anda bisa simpulkan (sedikit) cara mengenali gejala virus tanpa s/w anti-virus.
1. Folder options raib (meski tidak/belum raib, kalau Anda ubah opsi, lalu setelah OK Anda masuk lagi ke opsi folder, pengaturan ternyata balik lagi ke default, itu juga tanda-tanda komputernya terinfeksi virus).
2. Ctrl + Alt + Del tidak berfungsi.
3. System restore gagal berfungsi, atau yang lebih parah hilang dari tab system properties.
4. Dapetnya belakangan, files.exe yang aslinya adalah dokumens atau spreadsheets akan bisa langsung terlihat menggunakan harddisk dengan OS yang bersih dari virus.

Saran utama: selalu miliki backup data!!!

Saran lainnya untuk yang menggunakan PC.
1. Sediakan harddisk khusus (4 GB cukup) untuk membuka file yang bukan milik kita atau data kita sendiri yang mobile. Boot priority bisa diatur dari BIOS setup, atau cucuk cabut kabel api harddisk untuk lebih amannya. Bila komputer juga digunakan oleh orang lain, misalnya di tempat kost, aktifkan boot priority-nya untuk harddisk keroyokan. Kalau bakal ditinggal lama, cabut kabel apinya atau cabut harddisknya dan simpan. Teman baik yang tidak berniat/bermaksud buruk pun bisa jadi juga sebagai sumber infeksi karena kurangnya keperdulian tentang hal-hal itu.
2. Bagi yang tidak bisa menyediakan harddisk khusus, bila hendak membuka file dari ‘luar’, pastikan
a. buat backup data terakhir,
b. kemudian buat check point pada system restore (lebih baik membiasakan dengan membuat check point secara rutin, restore berguna untuk mengembalikan sistem OS pada keadaan sebelumnya, tapi tidak berlaku untuk restore data—setahu saya),
c. pastikan opsi tampak untuk file-file system & hidden dari folder options,
d. buka wordpad (setahu saya, wordpad tidak memiliki fasilitas macro, jadi file yang disimpan via wordpad, tidak menyimpan macros),
e. buka word/excel, setel tinggi security macro untuk menonaktifkan macros, buka file yang diperlukan (jangan buka lewat jendela eksplorer, dan sebelum buka lihat dan catat besaran filenya), lalu save sebagai file lain, cek besaran filenya, kalau file tersebut besarannya sama dengan file sebelumnya, ‘cukup’ aman untuk digunakan—kalau saya masih ketar-ketir. Tapi kalau tanpa membuat perubahan apa pun pada file tersebut ternyata besaran filenya berubah, perlu dicurigai adanya ‘sesuatu’ yang menyusup pada metafile. Kalau terjadi seperti ini, copy dan paste-kan pada wordpad, kemudian simpan (untuk .xls ke .rtf),
f. shut down komputer, tunggu minimal selama 10 detik (data di dalam memory masih tersimpan dalam selang waktu itu) sebelum menyalakan komputer kembali.
g. Untuk lebih aman, restore sistem Anda.

semoga ada manfaatnya.

Berikut link ke tips dan pengalaman lain:

membangun-pc-kebal-virus-tanpa-anti-virus
forum.polnep.ac.id
menangkal-virus-tanpa-anti-virus
mencegah-virus-masuk-komputer-melalui-flashdisk
mengembalikan-file-doc-dan-rtf-yang-terserang-virus-jadi-exe
tips-mencegah-virus-tanpa-anti-virus

Tags: ,

2 Tanggapan ke “Mengupayakan komputer sehat tanpa (anti) virus”

  1. Siguanteng Berkata

    Botak botak…kenapa selalu jadi dilema ! Sedangkan se bagian orang menyukai yang botak. Mungkinkah botak akan jadi tren sekarang ? Semua itu kembali kepada individunya. Kebesaran jiwa akan rasa legowo ing pandum

    sepertinya ada varian baru dari virus botak bolak balik batok: bikin jiwa gembung, legowone tak gowo-gowo, tapi lali artine pandum. apa ya….?


Tinggalkan Balasan