Arsip untuk Januari, 2009

Diproteksi: Haunted

28 Januari 2009

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:


T3M: tentang teka-teki matematika. Juga tentang algoritma dagang dan algoritma birokrat politik korup

25 Januari 2009

Dari sini saya dapatkan teka-teki berikut.

suatu ketika saya membaca majalah lama yang namanya saya lupa, ada semacam kuis yang sampai sekarang saya belum bisa menemukan jawabanya, begini kira2 pertanyaannya, si umar disuruh emaknya pergi ke pasar hewan untuk beli 3 jenis hewan, yaitu ayam, kambing dan sapi, si umar di beri uang emaknya Rp 1,000,000 (1 jt) uang itu harus ia habiskan untuk membeli 3 jenis hewan tersebut, jumlah seluruh hewan yang dibeli harus 100 ekor (artinya jika ketiga jenis hewan itu dikumpulkan harus berjumlah 100) hewan yang paling banyak jumlahnya yang harus ia beli adalah ayam, kemudian KAMBING (!), dan SAPI(!) jumlahnya yang paling sedikit.

Di pasar hewan tersebut harga ayam 1 ekornya Rp 5000 (5ribu), SAPI 1 ekor Rp 50000 (50 ribu) sementara KAMBING 1 ekornya Rp 35000 (35 ribu). Nah pertanyaannya berapa jumlah masing2 hewan yang harus dibeli si umar. (mohon maaf jika ada kesamaan nama dan jenis, karena mungkin hanya kebetulan belaka).

Saya bahas di sini lantaran di blog tersebut tadi tak ada komen balik atau pembahasannya. Itung-itung juga untuk update blog saya toh…? Ada bagian yang saya edit, perubahan dibanding tulisan aslinya, semata-mata agar benak ini bisa menerima secara realistis. Selain itu juga, pembahasan tentang harga hewan-hewan tersebut meliputi seluruh badannya, baik itu kepala, leher, punuk, tanduk, kaki, kuku-kukunya, ceker, pokoknya…. bukan cuma ekornya. Soalnya, kalau harga ayam 1 ekornya lima ribu rupiah, alangkah mahal bayar cuma untuk sekadar bulu…. Wuih…!

Dalam pembahasan ini, algoritma matematika semata-mata sebagai alat untuk mendekati, pendekatan sesungguhnya boleh dibilang sebagai trial & error saja. Begini….

Kalau uang 1 juta rupiah tersebut dibelikan untuk masing-masing hewan, dari yang paling sedikit, per satuan ekor jumlahnya adalah sebagai berikut: sapi, 20; kambing 28 koma sekian; ayam 200. Tentu saja, untuk belanja hewan sejumlah itu butuh kurang lebih 3 juta. Pendekatan-pendekatan berikutnya akan menghasilkan jumlah ayam, kambing dan sapi masing-masing 86, 9 dan 5 (=100).

#lho… nggak habis itu, kan masih ada sisa 5000 rupiah!?#

 

Lha, wong dalam matematika juga ada teorema sisa kok. Kan boleh nyisa? Itung-itung, lumayan buat beli es dawet tho…?

…….

Kalau menggunakan algoritme dagang, sisanya mungkin bisa lebih dari 5000 rupiah, tergantung kepiawaian tawar-menawarnya.

Dan bagi seorang birokrat yang lihai juga berpolitik, yang menjadikan jabatan publiknya tak lebih dari arena dagang untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri, ia akan belanja ayam, kambing dan sapi masing-masing 97, 2 dan 1, yang penting, persyaratan jumlah dan proporsi ayam > kambing > sapi terpenuhi. Bahkan, ia cuma belanjakan separonya. Soalnya, selain piawai tawar-menawar, dan negosiasi dagang, ia juga piawai persuasi dan bikin janji politik. Janjinya pada pedagang hewan itu, kalau besok entah kapan ada proyek pengadaan hewan, ia—pedagang itu—bakal dilibatkan untuk ikut ngeruk keuntungan. Maka, kerugian dagang dibarter dengan janji. Begitulah…

Korupsi, kemudian menjadi budaya ketika aturan-aturan disusun dan sengaja dibikin agar ada celah untuk bermain ‘plorotan’. Kemudian, para pedagang juga berpolitik….

Kemudian lagi………………………………………..

Hitung-hitungan

13 Januari 2009

Ketika langit dibumikan, dan bumi dilangitkan. Lalu ketika langit dan bumi dihitung dengan matematika-an…….

*Hhe! Itu sampeyan lagi ngapain? Bersajak…?*

“Ha! Niat sih gitu… mang knapa..?”

*mbelgedhes!*

“Oooo…………. Gitu ya…? Soalnya aku mau kasih komentar tulisan ini, ga’ enak sama penulisnya. Dia dah nulis bagus-bagus, eh komentarnya kok mbelgedhes, jadi, ya….. tulis saja diblog sendiri saja tho….?”

*o…jadi sbenernya situ minder gitu tho, mo kasih komen langsung di sana?*

“nggak juga sih, cuma was-was aja…”

*was-was napa?*

“kalo-kalo aku nanti trus kesengsem sama matematika bumi trus ga’ bisa balik lagi ke langit pigimana..?”

*Hugh! Gombal!*

“lho…lho….lho…. Diajeng, hla wong dikau ini diksi terakhir di tulisan itu lho….”

*Ha!?* mendadak, matanya berkedip macam kursor dan bikin saya klilipen senyumnya.

“Ugh!”

 

non-commercial break

12 Januari 2009

non-commercial-break

contoh .LSsJI. garis bilangan

10 Januari 2009

 

sebuah garis…

dengan titik-titik sebagai tanda…

dengan noktah-noktah menjadi penanda…

dan di bawahnya,

kita lihat angka-angka.

 

sebuah garis…

dengan deretan angka, dan nol di antaranya

dengan mata panah pada ujung-ujungnya.

 

sebuah garis…

dalam matematika, dan kita menyebutnya: garis bilangan,

 

garis,

yang berbilang angka-angka, dan dengan bertanda-tanda

ada angka positifnya

ada angka negatifnya

bila angka ada di sisi kanan nol, tandanya dia adalah positif

dan bertanda negatif, bila di sisi kiri nol letaknya.

 

sebilah garis,

dengan noktah-noktah sebagai tanda,

dengan angka-angka di bawahnya,

lalu mata panah…

pada ujung-ujungnya.

 

 

contoh .LSsJI. fungsi lookup

10 Januari 2009

 

aha!

coba lihat, cek, dan periksa!

lho!

apa yang mesti diperiksa?

tentu saja tabel rujukannya do….ng.

……

tabel rujukannya, tegak? atau, …

mendatar?

vertikalkah?

atau, …

horizontalkah?

 …

kalau vertikal,

ya… pakai vlookup-nya.

=vlookup(b7;$a$2:$c$5;2)

begitu, contoh polanya

tapi kalau horizontal,

ya… gunakan hlookup.

=hlookup(b14;$a$2:$g$5;3)

ya tho…!?

itu misalnya lho ya…

jangan semua-muanya nanti ditulis begitu…

… 

kita masih pakai ms excel lho ya…

jadi jangan lupa,

tanda sama dengan-nya

di awal fungsi,

biar hitungannya…

tidak error gitu lho!

 
 

tentang f(rag)man=1/0

7 Januari 2009

Awalnya, blog ini saya bikin untuk memuat sajak kritikan dan sajak-sajak gemblung otak cemplung saja (ada di halaman download). Lalu maksud dan tujuan berubah. Sajak yang berisi kritikan saya pindahkan ke cakram digital, dan setelahnya, patahkan. Lalu jadi males update. Dan seperti biasanya, kalau sudah begitu, ya sudah, hanyutkan saja ke dunia maya seperti blog-blog yang sebelumnya. Lha kok Baca entri selengkapnya »

kotak pandora itu bernama badan

5 Januari 2009

Hasrat ingin tahulah yang menyebabkan Pandora membuka kotaknya, kotak yang dititipkan padanya oleh Zeus dengan pesan agar jangan pernah dibuka. Hasrat ingin tahu Pandora, sebagai manusia, yang kemudian melepaskan segala rupa penyakit dan wabah dari dalam kotak itu.

Memang, bisa saja benak Pandora dipenuhi dengan bayangan macam-macam (perhiasan?), ini saya tak tahu. Bagaimana kita bisa tahu benak tokoh sebuah cerita? Tapi kita anggap saja begitu, dan Pandora, dengan bayangan dalam benaknya yang semacam itu, hasratnya, mungkin bukan lagi semata-mata hasrat ingin tahu, hasrat Pandora, boleh jadi adalah hasrat ingin memiliki.

Ya, hasrat ingin tahu melahirkan pengetahuan, peng-alam-an, dan kemudian peng-ilmu-an.

Sedangkan hasrat ingin memiliki? Baca entri selengkapnya »

catatan perjalanan

4 Januari 2009

:Aerosmith:Amazing:

how high can you fly with broken wings

life’s a journey, not a destination

Dalam perjalanan membuka kotak pandora…… saya terima pesan:

“…yang penting, waspada terhadap diri sendiri.” Sudah belasan tahun usia pesan itu. Pesan yang selama berbulan-bulan ini bukan hanya terngiang, tapi lebih tampak sebagai gambar yang muncul di benak. Pesan yang mengingatkan bahwa ada “sesuatu” yang salah. Tahu bahwa sesuatu itu salah tetapi tidak bisa keluar dari penjara kesalahan itu. Baca entri selengkapnya »

Tipe Pemimpin

3 Januari 2009

Pada dasarnya, tipe pemimpin dapat dibedakan ke dalam dua saja: direktur dan manajer.

Baca entri selengkapnya »