kotak pandora itu bernama badan

5 Januari 2009

Hasrat ingin tahulah yang menyebabkan Pandora membuka kotaknya, kotak yang dititipkan padanya oleh Zeus dengan pesan agar jangan pernah dibuka. Hasrat ingin tahu Pandora, sebagai manusia, yang kemudian melepaskan segala rupa penyakit dan wabah dari dalam kotak itu.

Memang, bisa saja benak Pandora dipenuhi dengan bayangan macam-macam (perhiasan?), ini saya tak tahu. Bagaimana kita bisa tahu benak tokoh sebuah cerita? Tapi kita anggap saja begitu, dan Pandora, dengan bayangan dalam benaknya yang semacam itu, hasratnya, mungkin bukan lagi semata-mata hasrat ingin tahu, hasrat Pandora, boleh jadi adalah hasrat ingin memiliki.

Ya, hasrat ingin tahu melahirkan pengetahuan, peng-alam-an, dan kemudian peng-ilmu-an.

Sedangkan hasrat ingin memiliki?

Banyak keburukan bisa muncul dari hasrat yang satu ini, yang paling sederhana adalah hilangnya kemampuan memberi. Bagaimana tidak? Ketika seseorang mesti memberi, ada sesuatu yang ‘hilang dan berkurang’ dari kepemilikannya. Sebab, memberi ‘bertentangan’ dengan tetap memiliki. Tentu saja, hal itu dalam konteks kebendaan. Ada ambigu pada hasrat memiliki, bagaimana dengan orang yang berhasrat memiliki watak kebaikan?

Badan manusia, pada dasarnya adalah sebuah kotak pandora, yang kalau dibuka dengan cara sedemikian rupa akan memperlihatkan banyak penyakit yang diwarisi dari moyangnya. Hanya lantaran suatu ‘penyakit’ tidak tampak secara dominan, tidak berarti bahwa sesorang tidak menyimpan penyakit dalam k.otak badannya. Amat sangat boleh jadi: resesif. Secara tepat, hal itu dirujuk oleh konsepsi regenerasi yang kita pahami dengan istilah: KETURUNAN.

Konsepsi yang merujuk pada degradasi gen-etika. Naudzubillah min dzalik.

sedikit paragraf tambahan plus postscript ada di sini.

Tinggalkan Balasan