Dari sini saya dapatkan teka-teki berikut.
suatu ketika saya membaca majalah lama yang namanya saya lupa, ada semacam kuis yang sampai sekarang saya belum bisa menemukan jawabanya, begini kira2 pertanyaannya, si umar disuruh emaknya pergi ke pasar hewan untuk beli 3 jenis hewan, yaitu ayam, kambing dan sapi, si umar di beri uang emaknya Rp 1,000,000 (1 jt) uang itu harus ia habiskan untuk membeli 3 jenis hewan tersebut, jumlah seluruh hewan yang dibeli harus 100 ekor (artinya jika ketiga jenis hewan itu dikumpulkan harus berjumlah 100) hewan yang paling banyak jumlahnya yang harus ia beli adalah ayam, kemudian KAMBING (!), dan SAPI(!) jumlahnya yang paling sedikit.
Di pasar hewan tersebut harga ayam 1 ekornya Rp 5000 (5ribu), SAPI 1 ekor Rp 50000 (50 ribu) sementara KAMBING 1 ekornya Rp 35000 (35 ribu). Nah pertanyaannya berapa jumlah masing2 hewan yang harus dibeli si umar. (mohon maaf jika ada kesamaan nama dan jenis, karena mungkin hanya kebetulan belaka).
Saya bahas di sini lantaran di blog tersebut tadi tak ada komen balik atau pembahasannya. Itung-itung juga untuk update blog saya toh…? Ada bagian yang saya edit, perubahan dibanding tulisan aslinya, semata-mata agar benak ini bisa menerima secara realistis. Selain itu juga, pembahasan tentang harga hewan-hewan tersebut meliputi seluruh badannya, baik itu kepala, leher, punuk, tanduk, kaki, kuku-kukunya, ceker, pokoknya…. bukan cuma ekornya. Soalnya, kalau harga ayam 1 ekornya lima ribu rupiah, alangkah mahal bayar cuma untuk sekadar bulu…. Wuih…!
Dalam pembahasan ini, algoritma matematika semata-mata sebagai alat untuk mendekati, pendekatan sesungguhnya boleh dibilang sebagai trial & error saja. Begini….
Kalau uang 1 juta rupiah tersebut dibelikan untuk masing-masing hewan, dari yang paling sedikit, per satuan ekor jumlahnya adalah sebagai berikut: sapi, 20; kambing 28 koma sekian; ayam 200. Tentu saja, untuk belanja hewan sejumlah itu butuh kurang lebih 3 juta. Pendekatan-pendekatan berikutnya akan menghasilkan jumlah ayam, kambing dan sapi masing-masing 86, 9 dan 5 (=100).
#lho… nggak habis itu, kan masih ada sisa 5000 rupiah!?#
Lha, wong dalam matematika juga ada teorema sisa kok. Kan boleh nyisa? Itung-itung, lumayan buat beli es dawet tho…?
…….
Kalau menggunakan algoritme dagang, sisanya mungkin bisa lebih dari 5000 rupiah, tergantung kepiawaian tawar-menawarnya.
Dan bagi seorang birokrat yang lihai juga berpolitik, yang menjadikan jabatan publiknya tak lebih dari arena dagang untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri, ia akan belanja ayam, kambing dan sapi masing-masing 97, 2 dan 1, yang penting, persyaratan jumlah dan proporsi ayam > kambing > sapi terpenuhi. Bahkan, ia cuma belanjakan separonya. Soalnya, selain piawai tawar-menawar, dan negosiasi dagang, ia juga piawai persuasi dan bikin janji politik. Janjinya pada pedagang hewan itu, kalau besok entah kapan ada proyek pengadaan hewan, ia—pedagang itu—bakal dilibatkan untuk ikut ngeruk keuntungan. Maka, kerugian dagang dibarter dengan janji. Begitulah…
Korupsi, kemudian menjadi budaya ketika aturan-aturan disusun dan sengaja dibikin agar ada celah untuk bermain ‘plorotan’. Kemudian, para pedagang juga berpolitik….
Kemudian lagi………………………………………..