Game Masa Kini

4 Maret 2009

Blog ini saya bikin dengan tujuan tertentu. Puji syukur, tujuan itu kini telah terlampaui. Dan tulisan ini akan menjadi posting terakhir saya di blog ini. Tulisan ini sebelumnya menjadi bagian surat yang saya pos beberapa minggu lalu kepada teman-teman di salah satu milis yang saya ikuti.

Ada amputasi paragraf. Juga, ada beberapa operasi diksi pada bagian yang saya muat di sini. Kalau ada kata-kata dalam bahasa inglish, mohon difahami dalam ‘konteks’: indonesian-inglish.

Beginilah di antara isinya………………………………………

……

Emhmmm, … kalau tulisan/surat saya sebelumnya menjadi berita buruk, apa boleh buat, begitulah menurut saya realitas kekinian kita.

Sebabnya barangkali karena “… setiap bangsa, memiliki elemen-elemen yang tidak dapat dilepas tanpa tali kekang.”

Itu adalah ucapan ‘tokoh jenderal’ dalam novel “Dan Damai di Bumi” karya Karl May. Alangkah benarnya ucapan itu. Dan dalam kasus di negeri kita, tali kekangnya memang terlalu rapuh untuk bisa mengontrol beragam tindakan yang bisa ‘dibikin’ oleh manusia. Termasuk saya sendiri tentunya. He…he……….

Satu di antara problem mendasar yang selama ini berlangsung, saya kira adalah keengganan kita dalam memandang fakta dengan cara apa adanya. Akibatnya, manipulasi gampang sekali terjadi, dan bisa dengan gampang pula terjadi dimana-mana. Contoh manipulasi yang paling gampang adalah fenomena Asal Bapak Senang, dan yang lebih gampang lagi kita temui, tak perlulah disebut. Akibat yang paling jelek yang bisa terjadi, menurut saya, kita akan menjadi takut memandang realitas sesungguhnya. Bayangkan, hanya memandangnya saja takut, bagaimana pula kalau mengalaminya? Jangan-jangan, langsung depresi. Wah! Semoga saja tidak terjadi.

Saya masih akan ceritakan realita kekinian kita,

tapi saya usahakan dengan cara lain

Ada lagu Doel Sumbang bertahun lalu yang menyindir ’sesuatu’ dengan cara dan nada jenaka, dan yang lebih penting lagi: mengena!

Judul lagunya Rock ‘n’ Roll, dan diantara liriknya yang masih teringat kurang lebih begini:

Marilah kita sebut korupsi itu dengan rock n roll
Mumpung di mana-mana lagi demam rock n roll
Lantas kita nyanyi rame-rame tentang rock n roll
Mumpung di mana-mana demam rock n roll

……

Di tempat beras ada rock n roll
Di tempat minyak ada rock n roll
Di tempat telfon ada rock n roll
Di tempat sampah ada rock n roll (?)

……

Nah! Kan?!


Sebagai contoh, …

panggung rock n roll yang mungkin terjadi di tempat beras… kebetulan pula ada berita-beritanya belakangan ini tho…?

Rencananya, tahun ini bakal (didorong untuk) ekspor kan…? Iklan-iklan kuningnya kurang lebih (bilang (maknanya)) begitu.


dan yah! demi memenuhi hasrat untuk vulgar-ria, kita bisik-bisik sedikit nama tempatnya: bu*og, b*log, bul*g, b*l*g. terserah menginterpretasi akronimnya.

Mari kita mainkan 2 level game pura-pura.

Kepura-puraan ini penting, terutama sekali bagi saya, soalnya, seandainya nanti ada yang menuduh saya telah melakukan pencemaran nama baik, saya akan bisa menyangkal habis-habisan dengan landasan akronim.yang.ambigu. Dengan kata lain, game pura-pura ini bisa menjadi landasan penyangkalan dari saya dan oleh saya serta untuk siapa saja seandainya nanti diperlukan. Begitu.

Begini (bukan) aturan (main.main) bacanya:

  1. tanda * boleh dibaca udel, wudel, pusar, pusat, atau istilah lain, pokoknya asal sesuai dengan bahasa masing-masing yang lebih dikenal dan lebih akrab di telinga. Istilah yang lebih vulgar dari itu tidak disarankan untuk dimunculkan di sini (Maaf). Tok! (ketuk palu pengesahan).
  2. tanda * * akan diberitahukan nanti setelah level pertama game ini bisa dilewati (Punten). Kalau tak ada tanda tok ketuk palu, soalnya di level ini segala hal-hal-ihwal nyaris amat-sangat-sedemikian-samar. Ini level yang lebih merupakan area for.no.publicity saking banyaknya pesan off.the.record. Gosip-gosip dan rumours-nya, hati-hati lho ya… ini cuma kabar burung saja lho, ketukan juga ada dan bahkan lebih sering, lihat saja tandanya: * * . tapi saya ingatkan sekali lagi lho, ini ghosssssssssssssHip! Menurut ghost.sip, bunyi ketuknya itu: pluk! Kadang-kadang: pluq! Kadang juga: PluQ! Yah! pokoknya bunyi ketuknya itu tergantung tebal-tipis amplopnya la…hh.., begitu kata entah siapa. Ini kan game pura-pura tho? Jadi, pura-puranya saya ini dapat kabar berita itu dari mulut entah yang keberapa. Gitu lho! Wong namanya juga gosip. Yang gubraks juga ada kok, ternyata… yang sampe gubraks ketuknya itu soalnya amplopnya gedhe banget tuh, mereknya samsonite apa gitu.. entahlah, saya kurang tahu.

………Nah, marilah kita nge-game-por-nya…


Level PERTAMA:

1st round pose: bu*og

Itu artinya, Badan Urusan * Orang-orang Gaya. Mohon diingat, tanda * dibaca … apa?

Boleh juga * dibaca = pamer * dengan sedikit pornoaksi.

Menggunakan kalimat bacaan sendiri yang lain dari yang lain lebih disarankan untuk latihan improvisasi. Begitu.

Gaya yang digunakan dalam analisis tentang lembaga-pura dalam game-pura-pura ini adalah gaya dalam pengertian fashion, sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan gaya dalam pengertian fisika. Jadi jangan salah sangka. Dan sebaiknya kita hindari perdebatan tentang mana yang lebih berhak atas denotasi gaya, fisika atau fashion. Yang penting, kita dapat temukan persamaannya dulu, sama-sama didahului huruf ‘f’. kalau menurut saya sih, baik dari perspektif fisika ataupun fashion, gaya adalah konotatif. Kalau mau disangkal, silahkan saja, paling saya akan ber-he…he… he.. saja.

Nah ya, itu pose pertama, potret tampak depan.

Posisi * sangat jelas keliatan simetris, meski yang di-sebelah-kanan-kirinya tidak. Soalnya, belum ada konsolidasi lewat rapat khusus yang tertutup. Belum dijadwalkan gitu. Anggaran untuk itu sepertinya juga belum siap. Kemungkinan lain, anggarannya sudah disiapkan tapi keburu ditilep oleh-entah-siapa.

Ini ronde pendadaran saja. Anggaplah begitu.

Lagak tangan apakah mau diletak di pinggang atau bersedeku atau yang lain-lainnya tinggal sesuaikan saja dengan kebutuhan impovisasi atau arahan ForArtAct-kakKak-kaKkak director-nya.


2nd round pose: b*log

Masih sama juga dengan ronde pertama, hanya beda sedikit pose-nya: * kelihatan agak menyamping.

Pose: aksi hadap kanan, * tampak dari kiri-depan. Jelas sekali, posisinya asimetris. Tandanya kasak-kusuk s’dang dipraktekkan.

Akrobat sign-name atau akronim, silahkan pikirkan sendiri kepanjangannya, yang penting sesuai dengan aturan main dan jangan sampai buru-buru game over, apalagi sampai spell-kulasi-dini. Duh! Usahakan deh, jangan begitu.


3rd round pose: bul*g

Pose: aksi hadap kiri, * tampak dari kanan-depan.

Sama dengan ronde pertama dan kedua, hanya saja, selain beda sedikit pose, di ronde ini ketrampilan nge-game dan memainkan joystick sudah lebih lihai.

Akronimnya berarti:

badan udah lebih lihai lagi untuk (ng*) goyang-goyang dengan girang-riang tak-tertahan-tahan lantaran sukses selesaikan ronde garongan.

Mohon agar tanda * jangan sekadar dibaca udel saja. Bikin makna dan frasa yang dipanjang-panjangkan. Tambahan sedikit penganiayaan terhadap otak agar ngubek-ubek diksi tidaklah mengapa. Malah makin sehat kok. Tapi jangan minta saya sumpah untuk jamin sehatnya. Nggak berani saya.

Bagi yang di level pertama ini sudah keburu game over, ngulang level dulu sebelum masuk level berikut. Sebaiknya begitu.

Nah! Kelihaian nge-game di ronde ketiga level pertama ini tampak dari adanya frasa-frasa baru yang diciptakan untuk memanjang-manjangkan birokrasi sehingga realitas kerakyatan makin jauh dari tujuan kebijakan yang semestinya. Huruf-huruf digunakan lebih dari satu kali sebagai bukti adanya kemahiran ber-ambigu dan terutama sekali karena kemahiran ber-ambigu ini amat sangat very really truly penting untuk tujuan-tujuan mengelabui. Frasa ulang berarti juga bahwa hal-ihwal terutama menyangkut pembelian dan lebih penting lagi penggunaan dan pemanfaatan barang, dianjurkan dengan sangat agar bisa di-bolak-balik, pokoknya full-duplex, sehingga program-program baru tetap dapat memanfaatkan barang-barang bekas.

Urusan epistemologi tak ada kaitan sama sekali dalam game ini. Dan apalagi aksiologisnya. Mbelgedheskan sajha!

Pelaporan akhir nanti, gampang! Tutup saja dengan kesimpulan:

“seluruh kegiatan menggunakan peralatan-dan-barang yang sungguh-amat-sangat-berkualitas.”

Bukti empiris-praktis:

“peralatan-peralatan dan barang-barang itu sanggup digeber untuk tugas-tugas dari beragam program, dari berbagai-bagai proyek, juga telah digesek-dan-digasak untuk macam-macam gerakan sambil berkali-kali-pindah-pindah-dari-tangan-ke-tangan tapi-toh masih-memiliki-daya-tahan yang-luar-biasa-awetnya. Sumpah!”

Biar lebih meyakinkan hebohnya, tambahi dengan kalimat:

“padahal, itu tanpa pakai obat kuat lho!”

Penggunaan obat kuat di level ini memang dilarang oleh aturan perundang-undangan yang berlaku. Ini untuk menjaga agar rakyat tetap lemah. Soalnya, di level ini, game-nya terbuka untuk siapa saja, menjangkau ke bawah sampai level ordinary jelata.

Bagian paling ujung, ‘lho!’ digunakan sekadar untuk menambahkan nuansa persuasif saja. Tak apa bila persuasi-nya kemudian gagal. Kata lho! dimaksudkan terutama sebagai anti-klimaks level pertama game pura-pura ini saja kok.

D-o-o-d!

Congratulation!

You’ve got privilege access to the next-level

Please keep this password: obat kuat!


Level KEDUA: langsung anti-klimaks-nya saja: b*l*g

Petunjuk interpretasi: *l* kedip-kedip.


corrupt.ion.ad.vent.ure.tit.le:final-act:por.no.publicity

operation code:(tidak disebut disini karena sudah jelas ada sign-nya: for no publicity)

itu judul game level ini,

kedip-kedip mata sekadar kode bahwa bakal ada langkah pendekatan khusus ke-dip-pan over size yang sungguh luxurious di hotel bintang-entah-berapa. Yang penting, setelah goyang dipan berhenti dan badan telah jadi serasa tanpa belulang, tekenan tanda setuju bakal jauh lebih gampang didapat. Soalnya tangan dah terlalu lemes untuk melakukan penolakan gara-gara letih-keenakan. Mohon untuk tidak berpikir terlalu cabul. Ala kadarnya saja cukuplah.

sedang akronimnya berarti, ……

bapak-bapak petinggingging bikin block-team khusus dengan tugas khusus dan peralatan khusus alias special weapons and tactics atawa swat versi indoammonisi * (kedip mata kanan) dengan lobby-lobby intensif sambil tebar-sebar tepukan pluk, dan bagi yang terlalu ngeyel kasih saja kode gubraks tanpa melupakan bisik-bisik-sudah-ada-di-pesan-kan burger.perut.off.the.record * (kedip mata sebelah kiri) g……………………….
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………


…we-’e-’e-’e-’e… lha kok cuma titik-titik doang?
…nge-hang ya…?
…game over ya…?
…spell.kulasi.dini ya……?
…eh, eh, ada pesan muncul tuh, ada pesan…
…error ya …?
…wah! nggak ngerti aku
…pesan apa sih itu…

Top-secret…..

You do not have the proper privilege level to play this game


…Wah, …
…Lho..lho..lho, kok kursornya nggak kedip-kedip?
…Napa sih?
…Lha ya sudah
…shut down saja…
…Eh! Nanti dulu, jangan. reset saja!
…iYa! kita ngulang nge-game aja
…Jangan! Jangan! Ndak usssAh! Tuh.. kursornya ngedip…
…tadi ada nyang sanglah pengcet ngkali..


Please, ente-ring-kan password-nya:


…oh-oh. Kita diminta masukkin passwordnya tuh…
…Apa tuh tadi passwordnya ya…
…Emmmmmmmmmm. Apa ya..
…aku kok lupa….
…kayaknya sih, obat kuat gitu apa..
…Inget.inget. aku inget nih..
…Masukin dong masukin..masukin passwordnya!


O B A T K U A T !


CLETHAK!

(Saking-saking semangatnya, tombol enter tuh ditekan sampai bunyi clethak gitu)

Para pemain menunggu sambil gementeran..
Karena ini level top secret,
bukan level ordinary jelata yang cukup pake P/II, .. ..
prosesornya dibikin dari teknologi paling yahud: Core.6-Six.Quad-banged-deh-pokoknya
tapi, …
para pemain masih menunggu.
penonton menanti.
Sambil gementeran dengen huibat!
Sebagian dah kejang-kejang duluan, malah!
Anehnya,
Teknologi yang paling yahud itu belum menyajikan unjuk kerja yang mestinya juga yahud.

…hlo! Lho.lho.lho.LHO!
…we…….hladalah.hwarakadah!
…lha kok malah klepek-klepek gitu tho. Napa ni…?!
…Dapani sebenernya?
…salah password kali tadi tu…
…nggak! eNGGAK! Nggak salah aku masukin passwordnya. Yakin! deH!
…mbok ya jangan gitu tho ngomongnya. Yakin deh! Gitu. Mosok, Yakin! deH!
…Nah, jangan-jangan sampeyan emang salah password.
…nggAK! engGAK! nGGAK mungngng-kin!
…Coba cek dulu, tulis lagi di kertas biar bisa di-review…
…iya. Tulis dulu. Nanti boleh ngeyel lagi deh!

(opera-TOR tulis ulang password tadi, di bawahnya ada tumpukan print-out full-duplex, tampak sedikit jumlah-ang-ka-ang-ka-ang-ga-rang-an)

…na………..kan! salah ni…….
…pantes saja klepek-klepek gitu..
…lha wong sampeyan sampe over-dose kapital gitu..si..h..
…wa…………………h! ngenes deh!
…iya..ya..! mana kbanyakan spasi lagi..
…mang napa sih kalo kbanyakan spasi?
…BANYAK BOCOR DI PERJALANAN Ta-U!
…oh! Gitu ya…
…iYa! Sia-sia aja nih obatkuatnya.
…ho-oh ya.. padahal resepnya dari..dari…dari mana ya kok aku lupa…
…tauk tuh.
…Kayaknya sih, dari doktor ai-em-ef gitu apa..
…nggak manjur ya?
…Mana pula…tuh para-spekul-lan-elit–nya pada banyakan main produk derivat..sih..
…ho-o-ya…
…jadi bikin stock-exchange-nya-sontoloyo-gitu
…klepek-klepek-lemes……
…ho-o juga, aku latah nih..
…kagak real gitu apa ya…kalo derivat-an gitu!
…yo entah juga
…gak ngarti aku.
…Susah konsen nih. Judeg dengerin rock n roll yang gak abis-abis.
…Eh-eh, bagaimana kalau kita minta tolong?
…kamana atuh?
…kita call-nine-one-one. Bagaimana?
…oh! Eh! Patut dicoba itu..

*911#

tit-tet-tet

Begitulah bunyi tombol telpon ditekan.
Tadinya sih, setting default bunyi-tombol-nya, bunyi TET di awal, bunyi TIT belakangan. Cuma, settingan diperbaru-ulang. Soalnya untuk menghindari hal-hal yang bisa diinterpretasi apa…gitu.

tnu……….t tnu……….t tnu……….t …….

…bunyinya kok dah laen dari biasanya ya? Gak ada alun-nada-tunggu lagi… Cuma tnu….t bakali-kali ginih?
…di sana abis batere kali…
…mang kalo habis batre, bunyinya jadi brubah ya…?
…ssssssst. Diam dulu napa sih! Nah! Ni! D’angkat!

Sebuah suara terdengar dari sebrang sana.

“untuk sapa saja yang lagi dengar swaraku. Line ini dah out-of-order s’jak lama!”

Pletak. Bunyi telpon diletak di sabrang sana.

…?…?…?…? semprul!
…duh!
…Kok ending-nya maksa gitu sih?


Refreshing!

Kembali ke panggung rock n roll di tempat beras.

ilustrasi empiriknya begini.

Saya akan bicara dengan angka bohongan saja. Imajiner gitu lho!

Misal, kebutuhan beras dalam negeri kita 1 juta ton per tahun.

Itu misal lho… jadi mohon jangan sebut kalau saya sedang ber-rock n roll dengan data. He..he..

Misal juga, maksimal produksi, dalam keadaan sawah sehat tanpa di werengi atau di walangsangiti, atau dibanjiri, juga 1 juta ton.

Lalu, …

Rock n roll statistik produksi: 1,5 juta ton

Maklumkan, siap-ekspor: 0,5 juta ton

Maka, persediaan imajiner faktual ilustratif beras dalam negeri cuma sanggup memenuhi separuh dari kebutuhan.

Kalau begitu, inflasi tinggal di-berita-kan.

Biarpun inflasi sampai 9komasekiansekiankian%,

Di negeri kita, inflasi segitu masih ‘dibanggakan’ kok:

“..masih terkendali.. inflasi belum cape-deh-dua-digit ..” weleh!

Tentu, juga pakai bisik-bisik.

Lho bisik-bisik?

I-Ya! Setelah press conference yang tertutup (halah! Lha wong konfrensinya s’dah tertutup saja kok masih pakai bisik segala tho?)…

Bisikkannya,

“Silaken kalo-mo-dibritaken, nyang pengting jengen jadiken hedlain, nangti manglah bikini rakyat ndak tengnang, rakyat nangti pangnik. manglah repot!”


Maka,

berita dimasukkan saja

dalam kolom dukacita.

Sempilkan saja

di bagian dalam.

Begitu.


Dan, karena ‘dukacita’ yang itu dianggap tidak berhubungan dengan nasib orang banyak, cuma tak lebih dari dukacita terhadap angka-angka di dalam nurani yang mati, rakyat dimotivasi untuk tetep rajin nDang dut-an saja.

Lho!

Apa pula hubungannya dangdut?

Nganeh-anehi saja …

Lha iya tho…

Rakyat negeri ini sebenarnya kan memiliki mental yang hebat lho, tidak cengeng, … dan dengan demikian, menggunakan intrumen penyimpulan yang melompat dan asal-asalan, rakyat kita bisa disebut sebagai: sudah ’sejahtera’.

Nggak percaya..?

Putarkan saja lagu ‘termiskin di dunia’ … biar dalam kondisi satang-ah-klaparan, mereka masih sanggup bergoyang riang kok. Bukankah ini hebat?

Ditambah lagi, alat pertukang-kangan dangdut di negeri kita ini, bor dan gergajinya, … amboi… amatlah erotis.

Maka, kelaparan sirna begitu saja dari muka bumi indonesia. Dan maka, mana rakyat perduli dengan rock n roll?! Hi-Ya Tho???

Dan ya…

Baris terakhir bait kedua rock n roll-nya Doel Sumbang yang saya beri tanda (?) itu, saya tak ingat pasti. Kalau saya ganti dengan kata tempat sampah lantaran untuk bikin sedikit penyesuaian dengan berita yang (pernah) muncul belakangan ini yang problemnya, sepertinya masih nggantung. Kan ada dinas-yang-tak-perlu-disebut-namanya yang bikin kontrak pengadaan peralatan dan buku yang ternyata, barangnya bolehnya dapat dari ngorek tempat sampah kan?

Jadi, kalau gambaran saat ini dari bangsa kita tampaknya sedemikian suram, saya kira, bisa kita asumsikan saja karena kekuatan insyaf kita untuk membangun dunia yang lebih baik belum terjaga. Sama seperti manusia dalam konteks individu yang butuh tidur, kebudayaan dan peradaban bangsa kita saat ini juga sedang mengalami tidur(panjang)nya. Dan sama seperti kita kalau sedang tidur, kadang mengalami mimpi buruk, begitu pulalah bangsa kita saat ini. Banyak di antara kita mungkin saja terlalu tidak perduli dengan mimpi buruk yang dialami, bangun dan kemudian bergumam “oh, untunglah, cuma mimpi.” Padahal, mimpi dapat juga merupakan gambaran dari ‘watak-watak’ yang tersembunyi di luar kesadaran kita, gambaran dari karakter-karakter kita yang resesif. Badan kita, dalam pemahaman saya, adalah gambaran dari kotak pandora dalam maknanya yang nyaris denotatif, yang kalau kita berani membuka dan menghadapinya, banyak sekali mengandung penyakit. Dan gambaran mimpi buruk bangsa kita, celakanya, terpampang sedemikian nyata.

Sebagai bangsa, kita memang masih muda, jadi proses pembelajaran masih pada tahap-tahap awalnya. Kalau proses pembelajaran itu bakal berlangsung agak lebih lama, sangat boleh jadi begitu, itu bisa ‘dijelaskan’ dengan landasan asumsi ungkapan yang kita kenal, bahasa menunjukkan bangsa. Dalam bahasa kita, untuk menunjukkan sesuatu bersifat jamak, kita melakukannya dengan perulangan. Ini berbeda dengan, misalnya (bahasa) inggris yang cukup menambahkan “s” saja. Maka, kekeliruan(s) yang bersifat jamak, akan menjadi kekeliruan-kekeliruan. Berulang kali. Berulang-ulang. Dan berulang-ulang lagi. Whue…he…he… astaga! kok malah saya tertawa ya….

Begitulah bangsa kita ini kan? Duh… saya juga bagian bangsa ini e……

Dan jangan lupa, tengok pula LOG (pengetahuan) filsafat bangsa kita, logo ‘kemanusiaan yang adil dan beradab’ adalah belenggu! BELENGGU! Whua…ha…ha……

Dan tentang (ke)rakyat(an) apa ya… kata pepatah tentang (bagai) ‘itu’ dicocok cungurnya…? Nah! Hlo! Kan?!

_____________

Dengan maksud yang sama, tulisan ini juga saya tempatkan di sini.

2 Tanggapan ke “Game Masa Kini”

  1. Mancung64 Berkata

    Postingan terakhir mas?Memangnya mau tutup buku? Eh tutup blog maksudnya?

  2. shoshe Berkata

    ditutup sih…nggak…
    biarkan saja tetep ‘terbuka’ begini.


Tinggalkan Balasan